British Museum Hapus Istilah Palestina Usai Didesak Aktivis Pro Israel
British Museum menghapus kata "Palestina" dan "pendudukan Israel" dari materi pamerannya setelah terus didesak oleh berbagai organisasi serta aktivis pro-Israel, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Jumat (3/7/2026).
Langkah penghapusan materi sejarah yang mencakup periode lebih dari 2.000 tahun lalu itu diduga kuat merupakan akibat dari lobi intensif sejak akhir tahun 2024. Pihak museum awalnya berdalih perubahan dilakukan berdasarkan pengujian pengunjung, namun investigasi internal membuktikan riset tersebut tidak pernah ada.
Juru bicara British Museum membantah tuduhan pembersihan istilah tersebut dan menyatakan bahwa mereka tetap menggunakan kata itu di beberapa bagian galeri.
"Terdapat laporan yang menyebutkan bahwa British Museum telah menghapus istilah Palestina dari materi pameran. Hal itu sama sekali tidak benar. Kami terus menggunakan istilah Palestina di sejumlah galeri, baik yang menampilkan koleksi kontemporer maupun historis," kata juru bicara British Museum.
Pihak museum menolak memberikan jawaban lebih lanjut terkait temuan surel internal yang membuktikan adanya tekanan dari tokoh-tokoh pro-Israel. Sementara itu, pihak eksternal seperti organisasi UK Lawyers for Israel (UKLFI) telah mengklaim kesuksesan lobi ini sejak awal tahun.
Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, memberikan reaksi keras dan menyatakan telah menyurati pemerintah Inggris serta manajemen museum agar keputusan tersebut segera dibatalkan.
"Terdapat laporan yang menyebutkan bahwa British Museum telah menghapus istilah Palestina dari materi pameran. Hal itu sama sekali tidak benar. Kami terus menggunakan istilah Palestina di sejumlah galeri, baik yang menampilkan koleksi kontemporer maupun historis," kata juru bicara British Museum.
Zomlot menganggap argumen dan bantahan yang dikeluarkan oleh manajemen museum sama sekali tidak masuk akal.
"Saya tidak bisa lagi berprasangka baik setelah kami melakukan penyelidikan sendiri dan menemukan adanya penghapusan referensi mengenai Palestina, baik era kuno maupun modern, meskipun ada pengakuan resmi dari pemerintah Inggris," ujar Husam Zomlot, Duta Besar Palestina untuk Inggris.
Diplomat tersebut memperingatkan dampak jangka panjang dari penghapusan identitas sejarah ini di tengah situasi konflik yang masih memanas.
"Menghapus sejarah adalah langkah awal untuk menghapus masa depan. Hal ini menyangkut eksistensi kami, terutama mengingat genosida yang sedang berlangsung," kata Husam Zomlot, Duta Besar Palestina untuk Inggris.
Zomlot juga menilai tindakan institusi budaya tersebut telah mencederai netralitas sejarah demi kepentingan politik golongan tertentu.
"Dengan menghapus penyebutan sejarah Palestina, British Museum mengkhianati komitmen mereka terhadap sejarah dan membiarkan diri mereka dimanfaatkan untuk tujuan politik," tegas Husam Zomlot, Duta Besar Palestina untuk Inggris.