Pelatih Belgia Rudi Garcia Waspadai Kekuatan Kolektif Tim Nasional Senegal
Pelatih tim nasional Belgia Rudi Garcia mengantisipasi ketangguhan fisik dan taktik kolektif tim nasional Senegal menjelang laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Seattle Stadium pada Rabu (1/7) waktu setempat.
Pertandingan ini menjadi pembuktian bagi Setan Merah yang lolos sebagai juara Grup G, sementara Lions de la Teranga melaju ke fase gugur berkat performa impresif pada laga terakhir fase grup.
Mantan pelatih Reims yang kini menangani Auxerre, Will Still, ikut memberikan analisis mendalam mengenai kekuatan sang lawan yang dinilainya memiliki intensitas permainan sangat tinggi.
"Il faudra faire attention au milieu de terrain, mais aussi à l’aspect athlétique et l’intensisté qu’ils arrivent à mettre dans leur jeu et puis il y a toujours la qualité individuelle sur le front de l’attaque. Je pense que les Belges vont devoir être très méfiants" ujar Will Still, Pelatih Sepak Bola Belgia.
Will Still juga memberikan pandangannya mengenai kondisi kebugaran penyerang andalan Belgia, Romelu Lukaku, yang diperkirakan belum siap bermain sejak menit awal pertandingan.
"Pour l’instant, je le mets sur le banc, il n’est pas encore physiquement tout à fait prêt pour commencer un match. Je pense qu’on l’a vu lors du deuxième match contre l’Iran" kata Will Still, Pelatih Sepak Bola Belgia.
Di sisi lain, laga ini menjadi momen emosional bagi Rudi Garcia karena ia memiliki kedekatan historis yang kuat dengan pelatih Senegal, Pape Thiaw, serta gelandang Gana Gueye.
"Tu devrais regarder un jeune sénégalais, il est très fort" kenang Rudi Garcia, Pelatih Tim Nasional Belgia, saat merekomendasikan Pape Thiaw kepada Robert Nouzaret di Saint-Étienne dahulu.
Rudi Garcia memuji pencapaian karier Pape Thiaw yang sukses membawa Senegal menjuarai Piala Afrika (CAN) dan kini bersaing di level tertinggi turnamen dunia.
"Là, je vaix le battre" cetus Rudi Garcia, Pelatih Tim Nasional Belgia, sambil berseloroh mengenai targetnya memenangkan pertandingan krusial ini.
Hubungan emosional yang erat juga dirasakan Garcia terhadap Gana Gueye yang pernah membantunya meraih gelar ganda domestik saat masih bersama di klub Prancis, Lille.
"Gana, c'est encore plus fort. Je l'ai fait débuter en pro avec Pape Souaré, il a été du doublé avec le LOSC [en 2011], il a joué la finale de la Coupe de France. On est liés à jamais avec lui. Je vais lui faire un gros câlin avant le match et après le match mais je serai son pire ennemi pendant le match" jelas Rudi Garcia, Pelatih Tim Nasional Belgia.
Sementara itu, pelatih Senegal Pape Thiaw menegaskan dirinya tidak akan pernah melupakan jasa besar Rudi Garcia yang menjadi sosok kunci dalam membuka jalan karier profesionalnya di Eropa.
"Je me souviens que ce fut le premier à aller trouver Robert Nouzaret (l'entraîneur de Verts à l'époque, ndlr) pour lui dire qu'il m'avait repéré dans le centre de formation" tutur Pape Thiaw, Pelatih Tim Nasional Senegal.
Pape Thiaw mengingat kembali ketatnya regulasi pemain asing pada masa lalu di Liga 2 Prancis yang membuat kesempatan yang diberikan Garcia menjadi sangat berharga.
"Il faut savoir aussi que chaque club n'avait droit qu'à un seul étranger et l'ASSE était en Ligue 2. Ce n'est pas comme maintenant où on peut avoir 25 Sénégalais dans une équipe. J'ai vu le coach (Rudi Garcia, ndlr), parce que je l'appelle toujours coach, au tirage au sort pour la Coupe du monde, je le lui ai rappelé.
Il m'a dit qu'il était fier de ce j'étais en train de faire, surtout comme coach. Il compte beaucoup dans ma carrière, je ne l'oublierai jamais" papar Pape Thiaw, Pelatih Tim Nasional Senegal.
Keberhasilan Senegal melaju ke babak gugur sekaligus menegaskan dominasi wakil Afrika, di mana sembilan dari sepuluh negara konfederasi tersebut berhasil lolos dari fase grup.
"Nous avons montré que le football africain pouvait aller chercher les opportunités qui se présentent à lui. On ne doit envier personne, on a de bons joueurs, de bons entraîneurs, et on a les qualités pour ça" pungkas Pape Thiaw, Pelatih Tim Nasional Senegal.