Piala Dunia 2026 Dorong Digitalisasi Sistem Perjalanan Lintas Negara
Penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 menjadi momentum penting bagi percepatan sistem perjalanan lintas negara. Turnamen ini memicu penerapan sistem yang lebih cepat, aman, dan berbasis teknologi digital. Seperti dikutip dari Detik Travel, laporan World Travel & Tourism Council (WTTC) mengungkapkan bahwa ajang ini mendorong pemanfaatan teknologi manajemen perbatasan.
Inovasi yang diterapkan meliputi program pelancong terpercaya (trusted traveller) hingga layanan digital terintegrasi. Kompetisi sepak bola ini menjadi edisi terbesar dalam sejarah karena diikuti oleh 48 negara. Untuk pertama kalinya, tiga negara bertindak sebagai tuan rumah bersama.
Penerapan konsep trusted traveller menjadi salah satu perubahan paling signifikan. Melalui sistem ini, pelancong yang lolos verifikasi dapat melewati pemeriksaan perbatasan dengan lebih cepat tanpa mengurangi standar keamanan negara tujuan.
Menjelang turnamen, Amerika Serikat mencatat lebih dari 5,9 juta pengajuan Electronic System for Travel Authorization (ESTA). Sebanyak lebih dari 5 juta wisatawan di antaranya berhasil mendapatkan persetujuan masuk tanpa visa. Selain itu, lebih dari 1,6 juta wisatawan mendaftar dalam program khusus seperti Global Entry, NEXUS, dan SENTRI. Program-program tersebut berfungsi mempercepat proses pemeriksaan dokumen di wilayah perbatasan Amerika Utara.
Layanan digital juga diperluas melalui program FIFA PASS yang memberikan prioritas jadwal pengajuan visa bagi pemilik tiket. Wisatawan juga dibantu oleh COMPASS, sebuah platform berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memahami regulasi masuk. Kehadiran berbagai platform digital ini efektif mengurangi antrean panjang di perbatasan. Kemudahan ini sangat membantu pergerakan pelancong yang ingin berpindah antarnegara selama kompetisi berlangsung.
Ketiga negara tuan rumah menyinergikan kebijakan imigrasi mereka. Meksiko tetap menyediakan akses bebas visa hingga 180 hari untuk warga dari 65 negara serta mengoperasikan kios otomatis melalui program Viajero Confiable. Kanada mengintegrasikan pengurusan visa dengan platform digital ArriveCAN dan program NEXUS.
Sistem ini memungkinkan pelancong menyelesaikan deklarasi bea cukai dan imigrasi sebelum jadwal keberangkatan pesawat. WTTC menerbitkan laporan berjudul FIFA World Cup Border Management & Visa Facilitation: 20 Years of Evolution (2006-2026). Laporan tersebut menegaskan bahwa setiap edisi Piala Dunia selalu melahirkan inovasi baru di sektor perjalanan.
Jerman pada tahun 2006 memperkuat sistem pemrosesan visa Schengen. Selanjutnya, Afrika Selatan pada 2010 memperkenalkan kategori visa khusus olahraga, diikuti Brasil pada 2014 dengan penerapan jenis visa baru.
Rusia pada edisi 2018 menghadirkan sistem FAN ID untuk para suporter. Qatar kemudian mengembangkan platform digital Hayya pada 2022, hingga akhirnya edisi 2026 mengintegrasikan identitas digital, trusted traveller, dan AI. Transformasi ini diperkirakan membawa dampak jangka panjang bagi ekosistem pariwisata global.
Pelaku industri seperti hotel dan maskapai penerbangan harus menyesuaikan diri karena konsumen mulai terbiasa dengan layanan serba digital. Presiden dan CEO WTTC, Gloria Guevara, memberikan pandangannya mengenai pergeseran regulasi imigrasi ini.
"Perubahan dari sistem visa konvensional menuju program pelancong terpercaya menunjukkan bahwa pengelolaan perbatasan kini bergeser dari sekadar hambatan regulasi menjadi penghubung yang memperkuat konektivitas global," jelas Guevara.
Ia menambahkan bahwa penggunaan identitas digital dan pemeriksaan pra-keberangkatan akan menjadi fondasi utama sistem perjalanan internasional di masa depan. Pengalaman pengelolaan arus imigrasi pada Piala Dunia 2026 akan menjadi referensi penting bagi penyelenggaraan Piala Dunia 2030. Pasalnya, edisi tersebut direncanakan berlangsung di enam negara yang tersebar di tiga benua berbeda.