Gempa Venezuela Tewaskan 1.700 Orang dan Rusak Puluhan Ribu Bangunan

Share

Bencana gempa bumi kembar yang melanda Venezuela pekan lalu memicu dampak kerusakan masif di berbagai wilayah negara tersebut. Peristiwa ini merenggut ribuan nyawa serta menghancurkan infrastruktur permukiman penduduk dalam skala besar.

Dilansir dari Detikcom, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengestimasi sekitar 58.870 struktur bangunan di area terdampak berpotensi mengalami kerusakan fatal hingga roboh total akibat guncangan dahsyat tersebut.

Dampak masif ini dipicu oleh gempa kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang wilayah Venezuela pada 24 Juni lalu. Angka kerusakan bangunan tersebut diperoleh dari hasil analisis data citra radar satelit.

Penelitian awal ini dilakukan menggunakan instrumen satelit Sentinel-1 kepunyaan Badan Antariksa Eropa (ESA). Pengolahan data dikerjakan oleh dua peneliti dari Oregon State University, Corey Scher dan Jamon Van Den Hoek.

"Sekitar 58.870 bangunan kemungkinan mengalami kerusakan atau hancur di wilayah terdampak," tulis kedua peneliti dalam analisis awal yang dipublikasikan NASA.

Kendati demikian, tim peneliti memberikan catatan bahwa hasil kalkulasi tersebut merupakan penilaian cepat berbasis perubahan struktur permukaan tanah. Validasi lebih lanjut masih memerlukan proses verifikasi langsung lewat survei di lapangan.

Di sisi lain, otoritas domestik mulai menghimpun data riil kerusakan fisik. Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez mengonfirmasi sedikitnya 855 bangunan terdata rusak, dengan rincian 189 unit di antaranya runtuh sepenuhnya.

Operasi Penyelamatan dan Penanganan Korban

Hingga Senin (29/6), laporan resmi pemerintah Venezuela menunjukkan angka korban jiwa telah menembus 1.700 orang meninggal dunia. Sementara itu, korban yang mengalami luka-luka dilaporkan mencapai 5.000 orang.

Otoritas setempat belum mengeluarkan data resmi mengenai jumlah warga yang dinyatakan hilang. Namun, sejumlah perkiraan dari berbagai pihak memproyeksikan angka korban hilang dapat mencapai puluhan ribu orang.

Guna mempercepat penyaluran logistik, Amerika Serikat turut membantu pembukaan kembali akses Pelabuhan La Guaira. Tim militer Amerika Serikat juga dikerahkan untuk memulihkan fungsi operasional Bandara Internasional Simon Bolivar yang mengalami kerusakan struktural.

Dukungan internasional juga mengalir melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebanyak 27 negara telah mengirimkan bantuan berupa 40 tim pencarian dan penyelamatan yang mencakup 2.000 personel kemanusiaan serta 160 anjing pelacak.

Meskipun operasi darurat telah melewati masa kritis golden period 72 jam, petugas di lapangan masih menemukan mukjizat. Seorang pemuda berumur 21 tahun berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup dari tumpukan puing di kota pantai Tanaguarena pada Senin (29/6).

Kondisi darurat terlihat jelas di kawasan La Guaira, di mana bangunan gudang pelabuhan dialihfungsikan menjadi kamar jenazah temporer bagi ratusan korban yang belum teridentifikasi. Puluhan kerabat tampak berkumpul di luar area untuk menanti kabar keluarga mereka.

Krisis penanganan jenazah juga berlanjut ke wilayah ibu kota. Fasilitas krematorium di Caracas terpaksa beroperasi tanpa jeda guna melayani lonjakan korban, dengan rata-rata 60 hingga 70 proses pemakaman berlangsung harian sejak Jumat sampai Minggu.

Kesaksian Warga dan Dampak Ekonomi

Pilu mendalam dirasakan oleh Wilker Molalla yang kehilangan mayoritas anggota keluarganya akibat tertimbun reruntuhan beton bangunan rumah.

"Ada 11 orang di rumah kami. Hanya dua yang selamat karena saat gempa kami sedang bekerja," ujarnya.

Pengalaman memilukan juga diutarakan oleh Sergio Vergara saat mengevakuasi anggota keluarga dekatnya secara mandiri dari reruntuhan bangunan di kota La Guaira.

"Itu pengalaman yang mengerikan saat mengeluarkan jasad keponakan saya dan anak-anaknya," katanya.

Secara makro, PBB memprediksi bencana geologi ini berdampak langsung pada kehidupan sekitar 7 juta penduduk. Total kerugian ekonomi diperkirakan menyentuh angka 6,7 miliar dolar AS (sekitar Rp109 triliun), atau setara 6 persen dari PDB Venezuela.

Ketegangan Politik Maria Corina Machado

Aktivitas pemulihan pascabencana ini berjalan beriringan dengan dinamika politik domestik yang kembali memanas akibat tudingan dari pihak oposisi.

Tokoh oposisi sekaligus penerima Nobel Perdamaian, Maria Corina Machado, melemparkan tuduhan bahwa rezim pemerintah sengaja menjegal langkahnya untuk pulang dari lokasi pengasingan.

Melalui pernyataan resmi di platform media sosial X, Machado menyebut pihak berwenang sengaja menutup ruang udara penerbangan komersial agar dirinya tidak bisa hadir langsung mendampingi para korban gempa.

"Saya siap dan berada di dekat Venezuela. Saya akan melakukan apa pun agar bisa kembali dan bertemu rakyat Venezuela," kata Machado.

Sebagai informasi, gerbang udara utama di Bandara Maiqueta saat ini memang dibatasi operasinya dan diprioritaskan bagi penerbangan kemanusiaan karena dampak kerusakan gempa. Pihak pemerintah sendiri belum memberikan respons atas tuduhan Machado tersebut.

Bencana besar ini melanda di tengah masa transisi politik kepemimpinan presiden sementara Delcy Rodriguez, setelah enam bulan lalu mantan Presiden Nicolas Maduro ditangkap lewat operasi militer Amerika Serikat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author