Mengenal Underparenting yang Berikan Ruang Eksplorasi bagi Anak

Share

Kekhawatiran dalam mengasuh anak sering kali memicu orang tua untuk mengontrol seluruh aktivitas harian buah hati mereka. Sikap protektif ini sering kali muncul secara spontan demi memastikan kebahagiaan dan kenyamanan sang anak.

Kondisi tersebut memicu lahirnya sebuah pendekatan pengasuhan baru yang dikenal sebagai underparenting. Konsep pola asuh ini mulai memicu diskusi mengenai pentingnya memberikan ruang bagi anak tanpa harus selalu diarahkan.

Gaya pengasuhan underparenting menuntut keterlibatan orang tua yang lebih minim, seperti dilansir dari HaiBunda. Melalui metode ini, anak-anak mendapatkan kebebasan yang lebih besar untuk bereksplorasi serta memetik pelajaran dari kekeliruan mereka sendiri.

Kendati demikian, peran orang tua tidak hilang sepenuhnya karena mereka tetap berkewajiban memberikan pendampingan emosional serta arahan pada momen yang tepat. Konsep ini dinilai selaras dengan pola pengasuhan yang responsif terhadap kebutuhan riil sang anak.

Breanna Dede, seorang psikolog klinis sekaligus asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Duke, memberikan penjelasan mengenai pendekatan tersebut.

"Berbeda dengan hanya menetapkan semua aturan, aktivitas, dan harapan ini, pendekatannya lebih ke arah menunggu dan melihat atau bersantai, membiarkan anak menunjukkan kepada orang tua apa yang mereka butuhkan," jelasnya.

Pandangan senada diutarakan oleh psikolog klinis dari University of Southern California, Darby Saxbe. Menurut Darby Saxbe, underparenting bukan berarti menelantarkan anak tanpa bimbingan, melainkan kejelian orang tua dalam menentukan momentum untuk turun tangan atau membiarkan anak belajar mandiri.

Implementasi pola asuh ini dapat diterapkan melalui aktivitas harian, seperti melibatkan anak dalam urusan domestik rumah tangga atau saat berbelanja. Kehadiran ruang tenang bagi anak tanpa intervensi jadwal yang padat menjadi salah satu ciri khas metode yang mirip dengan slow parenting ini.

Dalam penerapannya, anak juga diajak untuk menghadapi konsekuensi langsung dari keputusan yang mereka ambil sendiri. Breanna Dede memberikan contoh konkret mengenai situasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

"Orang tua bisa menetapkan konsekuensi seperti mengambil gadget, atau ada konsekuensi seperti, 'Oke, jangan pakai jaket hujan, kamu keluar nanti akan basah kuyup,'" ujarnya.

Penerapan disiplin ruang ini diklaim memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan emosional anak. Salah satu manfaat utamanya adalah melatih kemampuan anak dalam memecahkan masalah praktis sehari-hari karena mereka memahami korelasi sebab-akibat.

Selain itu, kebebasan bermain tanpa kekangan regulasi yang ketat berpotensi memicu daya kreativitas serta kepekaan emosional anak. Melalui kesempatan mencoba berbagai hal secara mandiri, rasa percaya diri anak akan terbentuk secara bertahap.

Tahapan Menerapkan Underparenting

Proses transisi menuju pola asuh ini tidak dapat terjadi secara instan dan memerlukan konsistensi. Orang tua disarankan melakukan evaluasi terhadap aspek pengasuhan yang selama ini dinilai terlalu mengikat atau dominan.

"Saya akan mendorong orang tua untuk melakukannya secara bertahap. Orang tua tidak akan bisa melakukan transisi dalam semalam," jelas Breanna Dede.

Langkah awal yang dapat ditempuh adalah memberikan toleransi pada diri sendiri ketika proses adaptasi tidak berjalan mulus. Orang tua kemudian bisa berfokus pada perbaikan satu aspek terlebih dahulu, misalnya dengan mengurangi intensitas kegiatan yang memicu tekanan pada anak.

Kehadiran orang tua tetap bernilai penting melalui pemberian apresiasi atas setiap pencapaian mandiri yang diraih oleh anak. Terakhir, komunikasi yang jujur mengenai perubahan pola asuh ini wajib disampaikan agar anak memahami esensi kemandirian tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author