Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa Hingga Tewaskan Ribuan Orang

Share

Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah wilayah di Eropa pada Senin (29/6) hingga memecahkan rekor suhu pekan lalu dan mulai bergeser ke arah timur membawa kondisi berbahaya bagi warga setempat. Dilansir dari Bloombergtechnoz, fenomena cuaca buruk ini memicu dikeluarkannya peringatan merah di beberapa negara serta dikaitkan dengan lonjakan angka kematian berlebih di Prancis akibat lonjakan suhu yang signifikan.

Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih pekan ini karena suhu ekstrem yang membakar kawasan Eropa, dengan angka kematian harian melonjak di atas 1.400 kasus pada Kamis dan Jumat. Otoritas Kesehatan Masyarakat Prancis, Santé Publique France, menyatakan bahwa angka tersebut diprediksi akan direvisi lebih tinggi karena data saat ini baru mencakup sekitar 60 persen dari total kematian nasional lewat sertifikat digital, di mana 85 persen korban berusia 65 tahun ke atas.

Pergeseran cuaca panas ke timur membuat wilayah Belgrade mencatat suhu 38 derajat Celsius dan Bucharest mencapai 37 derajat Celsius pada Senin, sementara Slovakia mencetak rekor baru sebesar 40,5 derajat Celsius di kota perbatasan selatan. Menanggapi situasi yang memburuk, peringatan merah diterbitkan di Hungaria, Polandia, Rumania, Serbia, Kroasia, Slovakia, serta Bosnia dan Herzegovina untuk mengimbau warga tetap berada di dalam ruangan selama jam-jam terpanas.

Pemerintah Hungaria langsung memublikasikan daftar lebih dari 2.000 pusat pendinginan berpendingin udara di seluruh negeri untuk membantu warga yang kesulitan menghadapi panas di rumah mereka. Kebijakan darurat juga diambil demi menjaga kestabilan pasokan energi dan penanganan dampak kebakaran hutan di wilayah terdampak lainnya seperti Kroasia.

"Dua hari terberat dari gelombang panas akan segera tiba. Mari kita tunjukkan bahwa kita mampu bersatu sepenuhnya sebagai bangsa. Mari kita saling menjaga satu sama lain," tulis Perdana Menteri Hungaria, Péter Magyar, di platform X pada Senin.

Kondisi iklim yang memburuk ini sejalan dengan hasil analisis ilmuwan dari konsorsium World Weather Attribution (WWA) yang meneliti periode tiga hari terpanas di Eropa Barat akibat pengaruh kubah panas (heat dome). Peneliti menemukan bahwa peningkatan suhu Bumi sebesar 1,1 derajat Celsius dalam 50 tahun terakhir telah mengubah probabilitas terjadinya cuaca ekstrem secara drastis.

"Ini merupakan gelombang panas paling parah dan paling luas yang pernah melanda kawasan Eropa sebesar ini," kata Dr. Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem di Imperial College London yang juga tergabung dalam tim World Weather Attribution (WWA).

Data WWA menunjukkan bahwa tanpa adanya perubahan iklim, peristiwa panas ekstrem pada bulan Juni seperti ini tidak mungkin terjadi. Keeping menambahkan bahwa indikator kelembapan tinggi atau suhu bola basah global menunjukkan dampak kesehatan yang sangat besar bagi 45 persen kota berpenduduk di atas 50.000 jiwa.

"We found that in the last 50 years, when the Earth's temperature has increased by about 1.1 degrees Celsius, the probability of a heatwave like this happening has changed drastically. An event like this would be impossible in June without climate change. However, will we consider a summer like this a cool one in the future? The answer is, yes," ujarnya.

Banyak ibu kota di Eropa tidak hanya mengalami periode tiga hari terpanas yang pernah tercatat pada bulan Juni, tetapi juga periode tiga hari terpanas sepanjang tahun. Keeping memperingatkan sedikitnya 100 juta orang di Eropa menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius pada Kamis.

"Indikator ini memperhitungkan kemampuan tubuh manusia untuk mendinginkan diri. Dengan kondisi terburuk yang pernah dialami di 45% kota berpenduduk lebih dari 50.000 orang, dampak gelombang panas ini terhadap kesehatan kemungkinan akan sangat besar," kata Keeping.

Ketergantungan dunia pada pembakaran bahan bakar fosil dinilai menjadi pendorong utama mengapa perubahan iklim saat ini semakin tidak terkendali.

"Kecepatan perubahan yang terjadi sungguh mencengangkan."

Pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak percepatan transisi energi global guna menekan pembakaran karbon di atmosfer bumi yang memperparah cuaca panas ini.

"Perubahan iklim kini semakin tak terkendali akibat ketergantungan dunia pada pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Namun, solusinya juga sudah sangat jelas: mempercepat transisi ke energi bersih—yang kini jauh lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil—serta melindungi hutan dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim," kata Kepala Iklim PBB Simon Stiell.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author