Investor Swiss Bidik Investasi Sektor Digital dan AI di Indonesia
Sejumlah investor, pelaku industri, hingga akademisi asal Swiss menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat sebagai tujuan investasi yang menjanjikan di Asia pada Selasa, 30 Juni 2026. Keunggulan tersebut didukung oleh besarnya pasar domestik, pertumbuhan ekonomi yang solid, serta peluang besar di sektor digital dan kecerdasan buatan (AI), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Arus investasi asing ini berpotensi meningkat karena posisi strategis Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fragmentasi geopolitik. Para pelaku usaha Swiss kini tengah mencermati berbagai potensi kerja sama sekaligus mengidentifikasi tantangan regulasi serta infrastruktur di tanah air.
"Secara pribadi saya melihat Indonesia merupakan pasar yang sangat menarik saat ini. Pertumbuhannya cepat, didukung pemerintah serta kebijakan yang tepat, sehingga saya yakin skalanya akan terus berkembang," kata Bei Zhou, Head of APAC Desk AMINA Bank AG.
Sektor kecerdasan buatan menjadi salah satu daya tarik utama bagi korporasi teknologi global untuk melakukan ekspansi bisnis. Rencana penjajakan kerja sama komputasi skala besar kini sedang berjalan untuk mengoptimalkan potensi pasar yang tersedia.
"Saya sangat optimistis terhadap peluang di Indonesia. Kami memang masih mencermati tantangan seperti logistik dan proses perizinan, termasuk tantangan yang juga dihadapi perusahaan hyperscaler dalam membangun dan mengoperasikan infrastrukturnya," ujar Peter DeMeo, Head of Product Phoenix Technologies AG.
Perusahaan teknologi Swiss lainnya juga melihat struktur ketenagakerjaan dan pertumbuhan ekonomi digital yang cepat sebagai modal utama. Pembenahan iklim investasi tetap diharapkan demi kelancaran operasional jangka panjang.
"Kami sangat antusias terhadap peluang untuk berinvestasi di Indonesia. Daya tariknya terletak pada besarnya pasar, potensi ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi digital yang sangat cepat. Tantangan kami adalah memahami kompleksitas regulasi, memastikan konsistensi kebijakan, dan memahami dinamika politik lokal agar investasi dapat berjalan efektif," kata Hesti Aryani dan Stefan Winzenried dari JANZZ Technologies.
Dinamika geopolitik dunia membuat posisi Indonesia semakin dipertimbangkan dalam peta bisnis global. Hal ini terlihat dari meningkatnya frekuensi pembahasan mengenai Indonesia di tingkat manajemen puncak perusahaan internasional.
"Indonesia kini semakin sering menjadi topik pembahasan di tingkat dewan direksi perusahaan-perusahaan global, dan kami melihat negara ini akan menjadi salah satu fokus utama dalam strategi ekspansi internasional ke depan," ujar Erich James Hoesli, Founder & Managing Director Frontview Advisory Group AG.
Sisi riset dan inovasi perkotaan juga menunjukkan hasil positif melalui kolaborasi akademis yang telah berjalan di beberapa wilayah Indonesia. Hasil riset tersebut memperkuat keyakinan terhadap potensi pembangunan masa depan.
"Saya sangat menikmati kolaborasi tersebut dan optimistis terhadap masa depan investasi di Indonesia," kata Gerhard Schmitt, Professor of Information Architecture ETH Zürich.
Selain investasi konvensional, keselarasan karakter ekosistem digital antara Indonesia dan Swiss menjadi dasar kuat untuk kolaborasi teknologi terdepan. Hubungan bilateral ini diharapkan mampu menghasilkan solusi pragmatis di tengah kompetisi teknologi global.
"Di tengah hiruk pikuk persaingan global untuk mendominasi AI, potensi negara-negara yang diam-diam membangun jalannya sendiri sering kali terlupakan, termasuk Indonesia dan Swiss. Kedua negara sama-sama menjunjung tinggi kepercayaan, hubungan jangka panjang, dan solusi yang pragmatis. Forum bisnis di Crypto Valley menunjukkan bahwa Indonesia dan Swiss dapat memperoleh manfaat besar dari kerja sama yang lebih erat, termasuk dalam menjaga keberagaman budaya dan kedaulatan digital," ujar Reto Gadient, Co-Founder Crypto Valley Association.