Militer Iran Tembak Pasukan AS di Selat Hormuz

Share

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melepaskan tembakan yang menargetkan posisi pasukan militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz pada Jumat, 26 Juni 2026. Langkah tersebut diambil sebagai aksi balasan atas serangan udara AS sebelumnya yang dinilai melanggar komitmen perjanjian damai.

Ketegangan ini terjadi di tengah proses pembahasan implementasi memorandum yang baru ditandatangani kedua belah pihak. Hubungan memanas karena perbedaan interpretasi mengenai pengelolaan Selat Hormuz, persediaan uranium Iran, serta kampanye militer Israel di Lebanon.

Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa pesawat mereka menyerang lokasi peluncuran rudal, fasilitas penyimpanan drone, dan stasiun radar di Pulau Sirik, Provinsi Hormozgan. Serangan dilakukan menyusul insiden drone yang menghantam kapal komersial berbendera Singapura, M/V Ever Lovely.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pernyataan bersama AS dan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) mengandung provokasi. Pihak Teheran juga mendesak negara-negara Teluk untuk melarang penggunaan wilayah mereka sebagai basis serangan terhadap Iran.

"seperti biasa, telah melanggar komitmennya dan melakukan serangan udara" kecam Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

IRGC menegaskan bahwa wilayah Selat Hormuz memiliki aturan lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pihak sesuai dengan kesepakatan regional yang berlaku.

"Menurut Pasal 5 Memorandum tersebut, Islamabad memiliki perjanjian pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz dengan Republik Islam Iran," kata Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Pihak militer Iran memastikan situasi di lapangan dapat bereskalasi lebih jauh jika tindakan serupa kembali terulang di masa mendatang.

"Namun, AS, dengan menghasut berbagai pihak, telah berupaya melanggar komitmen ini, dan kami telah menanggapi dengan tindakan balasan yang diperlukan. Jika agresi semacam itu terulang, tanggapan kami akan lebih keras lagi," ancam Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Di pihak lain, CENTCOM menyatakan bahwa tindakan militer yang diambil oleh pihak Iran merupakan bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui.

"Agresi tanpa provokasi terhadap kapal pengangkut komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar perjanjian gencatan senjata," kata Komando Pusat AS (CENTCOM).

Pemerintah AS menyatakan tetap menghormati poin-poin kesepakatan awal dan membuka ruang komunikasi jika terdapat perbedaan pandangan dalam implementasinya.

“Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami menghormatinya. Jika mereka memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana menerapkan perjanjian itu, mereka dapat menghubungi kami.” ujar JD Vance, Wakil Presiden AS.

Sebelum eskalasi bersenjata ini meluas, Washington telah mengarahkan telunjuk kepada Teheran atas insiden keamanan yang menimpa jalur pelayaran internasional tersebut.

"pelanggaran perjanjian." sebut Donald Trump, Presiden AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author