Pakar Ungkap Penyebab Diabetes Gestasional Hanya Mengincar Sebagian Ibu Hamil
Diabetes gestasional memicu lonjakan kadar gula darah yang membedakannya dari kondisi kehamilan normal. Namun, gangguan kesehatan ini tidak menyerang semua ibu hamil dengan risiko yang sama.
Kondisi medis ini umumnya akan mereda dan menghilang setelah proses persalinan selesai. Meski bukan penyakit seumur hidup seperti diabetes tipe 1 atau tipe 2, gangguan ini membawa risiko serius jangka pendek dan jangka panjang bagi ibu dan janin.
Dilansir dari HaiBunda, Profesor di University of Newcastle, Kirsty Pringle dari Universitas Newcastle menjelaskan bahwa belum ada jawaban tunggal yang pasti mengenai pemicu utamanya.
"Tidak ada jawaban yang pasti, tetapi ini merupakan kombinasi dari gaya hidup, genetika, dan peran kompleks hormon kehamilan, khususnya hormon yang dilepaskan oleh plasenta," kata Kirsty Pringle.
Lonjakan gula darah selama masa kehamilan berkaitan erat dengan fluktuasi hormon. Plasenta memproduksi hormon secara alami yang memicu resistensi insulin, namun kadarnya menjadi terlalu parah pada sebagian ibu hamil.
"Kehamilan itu sendiri merupakan kondisi resistensi insulin. Sel-sel ibu hamil menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga glukosa tetap berada di aliran darah lebih lama. Pada kehamilan yang sehat, ini membantu memberi nutrisi pada bayi" ungkap Kirsty Pringle.
"Beberapa hormon yang dilepaskan oleh plasenta menyebabkan resistensi insulin. Jika hormon-hormon tersebut tidak seimbang, ibu hamil bisa mengalami resistensi insulin yang berlebihan dan itulah yang membuatnya berisiko terkena diabetes."
Kaitan Komponen Genetik dan Riwayat Keluarga
Faktor hereditas atau genetik ikut memengaruhi kerentanan seorang perempuan terhadap diabetes gestasional. Latar belakang etnis tertentu dinilai memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding yang lain.
"Ada juga komponen genetik yang dapat meningkatkan risiko. Kita bisa mendapatkan apa yang disebut polimorfisme nukleotida tunggal atau mutasi kecil pada gen hormon, yang berarti hormon tersebut tidak bekerja seefektif yang seharusnya," ujar Kirsty Pringle.
"Jika ibu memiliki seseorang dalam keluarga dekat seperti saudara kandung atau orang tahu yang mengidap diabetes tipe 2, maka ia lebih berisiko," sambungnya.
Faktor Berat Badan dan Pola Hidup
Gaya hidup yang kurang sehat turut memicu munculnya diabetes gestasional. Indikator utamanya meliputi berat badan berlebih sebelum hamil atau lonjakan berat badan yang terlalu cepat pada trimester awal.
Langkah perubahan gaya hidup tetap disarankan untuk meminimalkan dampak buruk bagi janin. Namun, metode ini sering kali kurang efektif jika kondisi berat badan ibu sudah terlanjur berlebih.
"Meskipun perubahan gaya hidup memang membantu, hal itu tidak menjamin apa pun," kata Kirsty Pringle.
"Tapi dengan menjaga kesehatan, diabetes gestasional kemungkinan besar tidak akan menjadi atau membawa banyak konsekuensi potensial bagi bayi. Jadi, menjaga kesehatan tetap dianjurkan," lanjutnya.
Strategi pencegahan terbaik adalah dengan mengoptimalkan kondisi kesehatan tubuh sebelum merencanakan kehamilan. Ketika masa kehamilan sudah berjalan, fokus utama berubah menjadi pengelolaan kenaikan berat badan yang sehat.
"Menjadi sesehat mungkin sebelum mencoba hamil adalah pendekatan terbaik. Setelah hamil, bukan lagi tentang menurunkan berat badan, tetapi tentang mengelola kenaikan berat badan dengan cara yang sehat," katanya.