Gempa Kembar Guncang Venezuela Akibatkan Bangunan Runtuh dan Bandara Tutup
Dua gempa bumi besar mengguncang wilayah pesisir utara Venezuela pada Rabu (24/6) sore waktu setempat hingga meruntuhkan sejumlah bangunan di ibu kota Caracas serta memicu kepanikan massal. Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan guncangan pertama bermagnitudo 7,2 terjadi pukul 18.04 dekat San Felipe, disusul gempa kedua bermagnitudo 7,5 sekitar 40 detik kemudian dekat Yumare. Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez langsung menetapkan status keadaan darurat nasional serta menutup Bandara Internasional Maiquetia di Caracas akibat mengalami kerusakan infrastruktur yang sangat serius.
Pihak USGS memprediksi jumlah korban tewas akibat bencana hidrometeorologi ini berpotensi masif dan meluas, dengan estimasi awal berkisar antara 10.000 hingga 100.000 jiwa.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan bahwa seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang terdata berada di Venezuela, yakni sebanyak tiga orang, dalam kondisi aman dan selamat. Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menyatakan gedung Kantor KBRI Caracas beserta Wisma Duta tidak mengalami kerusakan struktural berarti dan jalur komunikasi darurat telah dibuka.
Operasi penyelamatan skala besar kini tengah berlangsung di distrik Los Palos Grandes dan Chacao, di mana petugas damkar beserta relawan berpacu dengan waktu mengevakuasi korban dari puing-puing apartemen. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengumumkan penghentian sementara pasokan gas alam dan jaringan listrik di beberapa bagian kota guna mencegah potensi kebakaran akibat kebocoran pipa.
Sistem Peringatan Tsunami Amerika Serikat sempat menerbitkan peringatan gelombang berbahaya untuk wilayah Puerto Rico dan Kepulauan Virgin, namun mencabut status siaga tersebut satu jam kemudian. Berikut adalah seluruh pernyataan resmi, kesaksian langsung warga, serta kutipan tokoh yang dihimpun dari berbagai sumber terkait bencana gempa kembar ini. "The walls were moving, and I felt as if I were in water," kata Amparo Diaz, warga Caracas yang tinggal di apartemen lantai empat kepada CNN en Español.
Diaz melarikan diri ke luar bangunan dengan membawa barang seadanya karena takut struktur tempat tinggalnya ambruk.
"At that moment I only ran out with my rosary, my phone, which I had on me, and my clothes," ujar Amparo Diaz. Pihak Pemerintah Amerika Serikat segera menyatakan solidaritas dan berkomitmen mengirimkan bantuan logistik medis serta tim pencari ke lokasi bencana. "The U.S. will be sending search and rescue teams, medical and humanitarian supplies and other resources in the crucial first days after this tragic natural disaster," kata Under Secretary of State for Foreign Assistance Jeremy Lewin.
Dukungan diplomatik juga disampaikan oleh jajaran pejabat tinggi luar negeri Amerika Serikat melalui platform media sosial.
"The US stands with the Venezuelan people in the aftermath of this evening’s devastating earthquakes," tulis US Deputy Secretary of State Christopher Landau pada akun X miliki-nya. Landau menyampaikan doa bagi keselamatan para warga di tengah situasi sulit pascabencana.
"May God bless our Venezuelan friends at this difficult moment," kata Christopher Landau. Mantan Presiden Nicolas Maduro yang saat ini berada dalam penahanan federal di New York turut merilis imbauan resmi bagi masyarakat melalui kanal Telegram.
"Let no one be left alone, let each community take care of their children, their grandparents, their sick," cetus Nicolas Maduro. Maduro meminta warga tetap disiplin dan saling mendukung kerja tim medis di lapangan. "Venezuela has faced great trials, and we will come out of this one strong too, with faith, discipline, and solidarity," tutur Nicolas Maduro dalam takarir akunnya.
Warga senior yang mendiami wilayah terdampak mengaku guncangan kali ini terasa jauh lebih mengerikan dibandingkan peristiwa seismik masa lalu.
"I could not even walk because of the intensity of the movement," kata Manuel Guevara Baro, warga lantai sembilan apartemen Los Palos Grandes kepada CNN. Kondisi mencekam juga membayung-bayungi para relawan lokal yang mencoba mencari tanda-tindex kehidupan di bawah reruntuhan gedung 22 lantai. "Antonio, it's your mom, I'm right here," teriak seorang ibu di tengah puing bangunan Petunia sebagaimana dilansir AFP.
Kurangnya peralatan evakuasi membuat warga sipil berinisiatif mengumpulkan alat bantu penerangan seadanya.
"We need flashlights," ujar salah satu relawan improvisasi di tempat kejadian. Sejumlah pekerja dan pegawai kantoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan turut mengisahkan momen penyelamatan diri mereka.
"The stairs came away, the whole wall cracked. Things fell from the ceiling. It was horrible," kata Odalis Escalona, seorang karyawan bank berusia 54 tahun. Beberapa warga sempat tertahan di dalam gedung akibat kuatnya getaran vertikal maupun horizontal.
"We waited for it to pass and then ran down the escalator," cetus Zenia Gonzalez yang sedang menenangkan remaja menangis. Kekhawatiran runtuhnya langit-langit membuat sebagian warga memilih langsung berlari keluar daripada bersembunyi di bawah furnitur. "For a second I thought about getting under the table, but I decided to get out," kata Maria Romero, insinyur berusia 48 tahun di La Castellana.
Kontributor media asing yang berada di lokasi juga melaporkan kuatnya rambatan gelombang gempa yang menghancurkan kaca-kaca jendela apartemen.
"Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan seumur hidup," kata Nicole Koster, jurnalis BBC Mundo di Caracas. Nicole sempat pasrah dan berlindung di sela dinding beton saat menyadari seluruh bangunan apartemennya bergoyang hebat. "Guncangannya begitu kuat hingga saya pikir bangunan itu akan runtuh menimpa saya," tutur Nicole Koster.