Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Akibat Serangan Israel di Lebanon
Iran kembali memblokir jalur pelayaran Selat Hormuz sebagai respons atas tindakan militer Israel yang terus melancarkan serangan ke wilayah Lebanon Selatan, seperti dilansir dari Detikcom pada Senin (22/6/2026). Penutupan jalur air vital global tersebut dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di tengah proses perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang sedang berlangsung di Swiss. Pihak militer AS membantah klaim penutupan tersebut dengan menyatakan bahwa lalu lintas di selat tetap berjalan, meskipun Iran menegaskan izin melintas tidak akan diberikan sampai gencatan senjata di Lebanon dihormati dan izin penjualan minyak Iran dikeluarkan.
Ketegangan ini memicu reaksi keras dari Jerman yang menilai penutupan jalur pasokan energi tersebut merugikan stabilitas ekonomi Eropa.
"Pada akhirnya, sumbat di leher botol Selat Hormuz didorong masuk oleh Donald Trump, bukan oleh kami, tetapi kami memiliki kepentingan untuk membukanya kembali," kata Boris Pistorius, Menhan Jerman. Pistorius menambahkan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur aman tersebut membutuhkan dukungan dari Iran dan Oman yang berada di wilayah selat.
"Pembukaan Selat Hormuz, atau lebih tepatnya jalur safe untuk melintasinya, adalah demi kepentingan Eropa, demi kepentingan pasokan energi kita dan pemulihan ekonomi kita," tegas Boris Pistorius, Menhan Jerman. Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz sebelumnya sempat menyatakan bahwa konflik ini bukan urusan NATO dan mengkritik AS karena tidak berkonsultasi dengan sekutu sebelum menyerang Iran.
Sementara itu, Israel dan kelompok Hizbullah dilaporkan telah menyepakati gencatan senjata pada Jumat (19/6) setelah serangan udara Israel menewaskan 47 orang di Lebanon selatan. "terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika," tegas juru bicara Militer Israel.