Mandra Soroti Kelestarian Budaya Betawi dan Luruskan Istilah Tanjidor
Seniman senior Mandra menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan warisan lokal Betawi yang dinilai semakin kehilangan tempat di tanah kelahirannya sendiri tepat pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 DKI Jakarta.
Dilansir dari laporan Warta Kota, Detik Hot, Media Kompeten, Akses, dan Insertlive, komedian tersebut menyoroti penurunan minat pemuda akibat kuatnya arus budaya asing, sekaligus meluruskan kesalahan sejarah terkait istilah musik tradisional tanjidor.
Mandra berharap agar kebudayaan daerah tetap dicintai generasi penerus serta memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang di tengah modernisasi yang melanda ibu kota.
"Ya selalu punya harapan, punya keinginan yang ikhlas. Semoga budaya Betawi bisa jadi tuan rumah di tempatnya sendiri," kata Mandra di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan.
Mandra melihat adanya kecenderungan generasi muda saat ini yang lebih akrab dan menggemari kebudayaan dari luar negeri dibandingkan mempelajari budaya daerah mereka sendiri.
"Artinya kalau memang saat ini juga udah mulai terkikis dan anak-anak sekarang juga udah nggak respect seperti apa ya di era-era dulu," ujarnya.
Situasi tersebut menurutnya membutuhkan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat agar tradisi lokal tidak terancam lenyap.
"Ya tidak menutup kemungkinan budaya seperti apa yang tadi saya bilang tinggal kenangan," tutur Mandra.
Kekhawatiran itu muncul karena ia mengamati pergeseran preferensi anak-anak zaman sekarang terhadap identitas budaya lokal.
"Karena anak-anak kan lebih cinta dengan budaya luar," ungkapnya.
Ia juga menambahkan adanya tren ketertarikan yang tinggi terhadap budaya-budaya asing tertentu di masyarakat.
"Satu contoh ya seperti nggak perlu saya sebutkan sebenarnya dengan kecenderungan beberapa budaya lain dan sebagainya," lanjut Mandra.
Mandra menginginkan agar identitas lokal mampu bertahan menghadapi gempuran zaman dan tidak sekadar menjadi catatan sejarah tanpa dipraktikkan.
"Yang jelas saya cuma selalu melontarkan harapan. Semoga budaya Betawi dan khususnya juga budaya yang lain ke depan jangan sampai nanti budaya tinggal kenangan," ungkap Mandra.
Ia menegaskan pula bahwa tanggung jawab pelestarian ini tidak boleh bertumpu pada seniman atau budayawan semata, melainkan butuh kerja nyata dari masyarakat serta kebijakan pemerintah.
"Pengembangan dalam hal ini sudah dilakukan oleh beberapa seniman dan budayawan," kata Mandra.
Mandra meminta agar komitmen pelestarian budaya diwujudkan melalui aksi riil, bukan sebatas retorika.
"Tapi semata-mata nggak bisa dilakukan oleh para pelaku saja. Paling nggak jangan cukup dengan slogan, tapi harus ada tindakan," tegas Mandra.
Di samping kekhawatiran tersebut, Mandra juga membagikan pandangan mengenai istilah tanjidor yang selama ini telanjur populer di masyarakat sejak era 1990-an akibat sinetron Si Doel Anak Sekolahan.
"Hal yang kayak begitu yang perlu dibenahi. Satu contoh macam seperti apa yang tadi situ bilang, dengan adanya sebutan tanjidor. Ini yang perlu diluruskan. Tanjidor itu dengan sebutan yang salah," kata Mandra di Studio Trans 7.
Mandra mengamati banyak pihak, bahkan dari kalangan seniman Betawi sendiri, yang belum memahami sejarah dan istilah asli dari kesenian tersebut secara utuh.
"Macam kayak bahasa kata panjak, anak wayang, kan kadang maaf ya, si senimannya sendiri banyak yang salah. Ya kadang-kadang itu ya senimannya sendiri aja nggak paham. Banyak," ujarnya.
Aktor berusia 59 tahun itu menjelaskan istilah yang benar adalah "Tanji", sedangkan "dor" merujuk pada bodoran atau lawakan.
"Dor itu bodoran (lawakan). Kalau mungkin era sekarang tahunya… komika karena ada lawakannya," jelas Mandra.
Ia mengungkapkan bahwa popularitas kata tanjidor dipicu oleh tayangan televisi yang dibintanginya dahulu.
"Kayak tanjidor. Tanjidor nggak ada. Lo mesti tahu asal usul, kok kenapa bisa disebut tanjidor?
Lo kenalnya tahun Premium? Tanjidor tuh tahun berapa? 90-an mungkin, dengan kata bahasa tanjidor gara-gara Si Doel yang bilangnya tanjidor," bebed Mandra.
Mandra merasa bertanggung jawab meluruskan sejarah ini dan mengingatkan bahwa kesenian Betawi memiliki keterkaitan panjang seperti jinong dan jipeng.
"Kalau ada tanjidor berarti ada lagi sebenarnya. Ada jinong, ada jipeng. Itu kan urutannya si tanjidor.
Kalau lo dulu kenal cuma tanjidor doang, ya berarti ilmu lo baru sejengkal. Apalagi lo orang Betawi ngakunya, 'Saya punya tanjidor', ya udah… ya baru bangun tidur kali," pungkas Mandra sambil berkelakar.
Namun pada hari Minggu, 21 Juni 2026, Mandra mengapresiasi perkembangan positif dari generasi muda saat ini yang mulai kreatif dan terampil menggeluti seni tari serta musik tradisional Betawi.
"Ya kalau saya jelas saya terima positif. Bahkan tadi seperti saya bilang, pengembangan-pengembangan seni budaya Betawi ini malah yang dulu dilakukan cuma… anggaplah bahasanya orang sepuh gitu ya, malah saya bisa membuktikan sekarang dengan… dari mulai tari Betawi, musik-musik Betawi malah sekarang sudah dilakukan dengan generasi yang sekarang ini yang lebih canggih, lebih hebat, lebih terampil dengan anak-anak muda sekarang," kata Mandra.
Tingginya ketertarikan generasi baru dirasakannya lewat kehadiran anak-anak usia dini yang menunjukkan bakat serta kecerdasan cepat dalam menyerap ilmu kesenian.
"Karena animo untuk penari aja satu contoh, nggak sedikit sekarang. Artinya usia sampai yang bahasanya 10 tahun aja itu udah bisa… bisa kita lihat kecerdasannya masing-masing. Kira-kira gitu," ujarnya.
Kendati gembira, Mandra tidak memaksakan anak-anaknya sendiri untuk mengikuti jejak kariernya dan membebaskan mereka memilih jalan hidup berdasarkan kesadaran pribadi.
"Kalau saya nggak. Ya si anak tadi kan kalau masih anak-anak ya, ya saya nggak tekankan. Tapi buat orang yang… ya adik-adik, anak-anak saya yang udah kuliah kan nggak perlu saya lontarkan, mungkin apa yang dia lihat itu yang mesti dia harus pegang," tuturnya.
Bagi Mandra, rasa memiliki terhadap kesenian tradisional harus tumbuh secara alami tanpa adanya unsur paksaan.
"Seperti apa yang tadi saya bilang kan, ya kalau bicara masalah itu kan biasanya munculnya kan dari hati. Dari hati sendiri. Nggak perlu kita paksa dan lain sebagainya, nggak ada saya," ujarnya.