Pep Guardiola Angkat Bicara Soal Rumor Mundur dari Manchester City

Share

Masa depan Pep Guardiola di Manchester City menjadi perbincangan hangat setelah dirinya angkat bicara mengenai rumor rencana kepindahannya pada akhir musim ini. Pelatih berkebangsaan Spanyol tersebut menyatakan akan berdiskusi terlebih dahulu dengan petinggi klub sebelum mengambil langkah pasti.

Seperti dikutip dari Bola, Guardiola berencana menemui Chairman Manchester City, Khaldoon Al Mubarak. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung sebelum laga pamungkas musim ini melawan Aston Villa di Etihad Stadium pada hari Minggu mendatang.

Langkah pembicaraan ini diambil setelah Manchester City dipastikan gagal mempertahankan gelar juara Liga Inggris musim ini. Kepastian tersebut didapat usai The Sky Blues ditahan imbang 1-1 oleh Bournemouth pada Rabu, 20 Mei 2026 dini hari WIB, yang membuat Arsenal resmi mengunci gelar juara.

Hasil imbang tersebut membuat pertandingan terakhir melawan Aston Villa tidak lagi berpengaruh bagi Manchester City. Skuad asuhan Pep Guardiola dipastikan menyegel posisi runner-up dalam kompetisi Liga Inggris musim 2025/2026.

“Orang pertama yang harus saya ajak bicara adalah chairman saya,” kata Guardiola, seperti dikutip dari ESPN.

“Saya tidak akan memberi tahu kalian soal keputusan apa pun di sini karena saya harus berbicara dengan chairman, para pemain, dan staf saya. Ketika kami bermain di Piala FA, berjuang lolos ke Liga Champions, dan Premier League, hanya ada satu hal di pikiran saya, yaitu mencoba membawa tim ke level tertinggi. Dan itulah yang sudah kami lakukan," imbuh dia.

Berdasarkan informasi dari sumber ESPN, jajaran manajemen Manchester City dikabarkan mulai pasrah jika harus kehilangan Guardiola pada musim panas ini. Situasi ini memicu spekulasi mengenai sosok pengganti yang akan menukanginya di musim depan.

Guardiola sebenarnya masih terikat kontrak bersama Manchester City hingga tahun 2027 mendatang. Kendati demikian, terdapat klausul khusus dalam kontraknya yang membolehkan mantan pelatih Barcelona itu hengkang lebih cepat pada musim panas tahun ini.

Nama mantan pelatih Chelsea, Enzo Maresca, kini mencuat sebagai kandidat terkuat untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Guardiola. Sementara itu, pilar lini tengah City, Bernardo Silva, mengaku sama sekali belum mengetahui keputusan akhir dari sang manajer.

“Sejujurnya saya tidak tahu soal itu,” kata Silva, yang sebelumnya juga sudah mengonfirmasi niatnya meninggalkan City musim panas ini.

“Itu keputusan dia, pengumuman itu hak dia apakah akan bertahan atau pergi. Itu bukan urusan saya.”

Apabila Guardiola benar-benar menyudahi masa baktinya lebih cepat, hal ini akan menandai akhir dari era kepemimpinannya selama 10 tahun di Etihad Stadium. Sejak mendarat di Manchester, ia telah mempersembahkan total 20 trofi bergengsi termasuk enam mahkota juara Premier League.

Faktor Kelelahan Skuad Menjadi Kendala Utama

Di balik kegagalan merengkuh trofi musim ini, Guardiola tetap memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras seluruh pemainnya. Dirinya juga menyampaikan ucapan selamat secara sportif kepada Arsenal dan Mikel Arteta yang sukses merebut gelar juara Premier League.

Mengevaluasi laga terakhir melawan Bournemouth, Guardiola mengakui armada timnya menghadapi kesulitan besar di lapangan. Faktor merosotnya kebugaran fisik dan stamina menjadi alasan utama performa Manchester City kurang maksimal.

“A pertandingan yang sulit, kami sudah mengetahuinya. Kami sedikit kehilangan energi dan itu normal,” ujar Guardiola kepada Sky Sports.

“Mereka punya 12 hari untuk mempersiapkan pertandingan ini. Tim yang bermain dengan energi seperti itu tentu sangat merepotkan.”

Ia menyoroti ketimpangan masa pemulihan antara kedua tim, di mana Manchester City dihadapkan pada jadwal pertandingan tandang yang sangat padat menjelang akhir kompetisi musim ini.

“Kami hanya punya tiga hari, harus bepergian, dan tetap berjuang,” lanjut Guardiola.

Kendati demikian, sang pelatih melihat ada tanda-tanda kebangkitan dari performa timnya setelah turun minum. Manchester City sempat mendapatkan beberapa peluang emas untuk mengubah keadaan sebelum akhirnya kehilangan kendali permainan di menit-menit akhir.

“Di babak kedua kami memulai dengan sangat baik, ada peluang Nico O’Reilly, lalu situasi offside Erling Haaland yang menurut saya seharusnya ditinjau VAR.”

“Setelah momen itu, kami tidak mampu memberikan dampak yang kami butuhkan. Kami akhirnya mencetak gol, tetapi sudah terlambat.”

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author