Pemerintah Evaluasi Penerima Makan Bergizi Gratis untuk Siswa SMA Elit
Pemerintah berencana meninjau ulang kelompok masyarakat yang mendapatkan manfaat dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah penyesuaian ini menyasar kelompok siswa dari keluarga mampu, seperti pelajar yang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) elit.
Upaya penataan ulang sasaran dilakukan agar penyaluran program MBG menjadi lebih tepat sasaran. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Detik Finance, Badan Gizi Nasional (BGN) kini tengah berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Kesehatan serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait.
"Contohnya, siswa SMA mungkin tidak perlu lagi menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Apalagi SMA-SMA yang high class, yang uang saku siswanya sudah Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu per hari. Mereka mungkin tidak perlu lagi menerima program ini," kata Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari, di DPR RI, Senin (15/6) kemarin.
Kebijakan membatasi alokasi untuk kategori SMA kelas atas diperkirakan dapat memangkas jumlah penerima hingga 8 juta orang. Pengurangan ini diklaim tidak akan mengganggu esensi utama dari pemenuhan nutrisi bagi masyarakat yang memang membutuhkan bantuan tersebut.
"Itu baru salah satu contoh yang sedang kami exercise. Dari simulasi sementara, jumlah penerima manfaat dapat berkurang sekitar 8 juta orang. Namun kami tidak menghilangkan esensi intervensi gizi yang dilakukan pemerintah. Refocusing ini diperlukan agar bantuan pemerintah lebih tepat sasaran, sehingga tujuan peningkatan gizi tetap tercapai dengan penggunaan anggaran yang lebih efisien," jelasnya.
Keputusan final mengenai jumlah penerima dan besaran pengurangan kuota hingga kini masih digodok dalam proses pembahasan. Pemerintah menegaskan bahwa fokus utama dari kebijakan ini adalah melakukan langkah efisiensi yang terukur.
"Dari situlah kami melakukan refocusing penerima manfaat. Saat ini kami masih melakukan exercise dan pembahasan bersama Kementerian Keuangan serta Bappenas, sehingga angkanya belum final. Namun yang jelas akan ada efisiensi lagi," jelasnya.
Penurunan jumlah sasaran penerima bantuan dipastikan bakal memengaruhi kebutuhan total anggaran program MBG. Menurut Arumsari, pagu indikatif BGN untuk tahun 2027 yang semula dialokasikan sebesar Rp 270,2 triliun bagi 81,5 juta penerima akan ditinjau kembali.
Proses kalkulasi ulang besaran anggaran saat ini sedang berjalan seiring dengan agenda penataan sasaran program yang dilakukan bersama Kementerian Keuangan serta Kementerian PPN/Bappenas.
"Yang jelas akan ada efisiensi lagi. Kami masih meng-exercise berapa yang bisa kita efisiensikan lagi. Tujuannya supaya intervensi gizi tetap tercapai, tetapi penerima manfaatnya lebih fokus," tutupnya.