Korea Utara Tegaskan Status Negara Nuklir Tidak Dapat Diubah
Pemerintah Korea Utara secara resmi menolak seruan denuklirisasi dari Amerika Serikat beserta sekutunya dan menegaskan bahwa status mereka sebagai negara pemilik senjata nuklir kini sudah tidak dapat diubah lagi, dilansir dari Detikcom pada Minggu (14/6/2026).
Sikap keras tersebut muncul sebagai respons atas pertemuan trilateral antara Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat di Tokyo. Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara sekutu menegaskan kembali komitmen mereka untuk mewujudkan denuklirisasi lengkap di Semenanjung Korea.
"Retorika tak berarti AS dan pasukan bawahannya terhadap Korea Utara… tidak akan pernah memengaruhi posisi Korea Utara yang tak dapat diubah sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi, dilansir AFP, Minggu (14/6/2026).
Pihak otoritas Pyongyang menilai bahwa pembahasan mengenai pelucutan senjata nuklir tersebut sudah tidak lagi relevan untuk dibahas dalam diplomasi internasional.
"'Denuklirisasi' adalah masalah yang telah diselesaikan secara permanen," imbuhnya.
Juru bicara tersebut kemudian mengaitkan penjualan sistem persenjataan oleh Amerika Serikat kepada Korea Selatan dan Jepang sebagai alasan utama di balik penguatan program nuklir mereka.
"Tidak peduli seberapa keras AS, Jepang, dan Korea Selatan berdebat, mereka tidak akan pernah mengubah posisi Korea Utara saat ini sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata pejabat itu, merujuk pada Korea Selatan dengan akronim nama resminya.
Akselerasi program senjata nuklir Pyongyang tercatat meningkat pesat sejak kegagalan kesepakatan dalam pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan Donald Trump di Hanoi pada tahun 2019.
"tidak ada yang dapat mengembalikan 'denuklirisasi' yang hilang secara permanen dalam tren zaman," kata juru bicara dalam pernyataan yang diduga merujuk pada kegagalan negosiasi masa lalu tersebut.
Sebelumnya, Kim Jong Un sempat mengadakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Pyongyang, setelah pemimpin China itu bertemu dengan Trump dan Putin, di mana media resmi melaporkan kedua belah pihak sama sekali tidak menyinggung isu denuklirisasi.
Komitmen pertahanan tersebut diperkuat oleh pernyataan dari lingkaran dalam pemerintahan Pyongyang yang menyatakan tidak akan pernah melepas aset strategis mereka.
Saudara perempuan pemimpin Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menyebut kebijakan itu sebagai "garis tanpa mundur" pada awal bulan ini.