Masyarakat Manfaatkan Media Sosial Jadi Penggerak Massa dalam Politik
Fungsi media sosial kini meluas menjadi sarana penggerak massa dalam berbagai isu termasuk politik akibat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Fenomena pergeseran peran platform digital dari sekadar jejaring sosial ini dilansir dari Detikcom pada Jumat (12/6/2026).
Perubahan pola interaksi tersebut memicu berkurangnya komunikasi secara langsung di tengah masyarakat. Setiap pengguna platform digital kini berpotensi menjadi penyebar informasi karena struktur medianya yang berbeda dengan lembaga pers konvensional.
Guru Besar Media FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dra Rachmah Ida MComms PhD, menjelaskan peralihan ruang komunikasi tersebut. Berbeda dengan media massa yang terstruktur melalui proses jurnalistik, platform digital membuka ruang interaksi yang lebih bebas.
"Komunikasi tatap muka sekarang jauh berkurang daripada komunikasi yang berlangsung melalui media," ucapnya dalam laman Unair, dikutip Jumat (12/6/2026).
Pemanfaatan platform digital juga meluas hingga sektor pengorganisasian masyarakat dalam skala besar. Perubahan ini menempatkan media digital sebagai salah satu bagian dalam sistem demokrasi yang memfasilitasi penyampaian aspirasi publik.
"Media sosial bahkan berperan sebagai sarana mobilisasi massa, wadah gerakan sosial, hingga instrumen yang turut memengaruhi dinamika politik di berbagai negara," papar Ida.
Gerakan masyarakat global seperti Arab Spring menjadi salah satu bukti nyata kekuatan platform digital dalam koordinasi massa. Di Indonesia, pengaruh tersebut terlihat jelas lewat fenomena 'No Viral No Justice' yang mampu mendorong respons cepat dari berbagai pihak.
"Hasilnya adalah sebuah lingkungan ketika perhatian yang viral sering kali lebih diutamakan daripada akurasi, dan rumor dapat berubah menjadi kenyataan melalui pengulangan dan pembenaran," ujar Ida.
Kondisi ini kemudian memicu tantangan baru terkait penyebaran rumor, hoaks, dan polarisasi di masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas literasi digital dinilai menjadi langkah krusial untuk membangun ekosistem digital yang sehat.
Dinamika pemanfaatan platform digital untuk kepentingan publik ini turut menarik perhatian kalangan akademisi internasional. University of Michigan dalam laporan #SocialScholars: Professors Show Power of Public Engagement mencatat akademisi global kini menggunakan platform digital untuk menyebarkan riset dan berdiskusi dengan pembuat kebijakan.
Dosen School of Education University of Michigan, Liz Kolb, menilai platform digital mampu memecah batasan geografis antar-pendidik. Media ini membuka peluang kolaborasi ilmiah serta perluasan jaringan profesional dalam menyelesaikan persoalan sosial.
"Ini adalah alat yang bisa sangat kuat," kata Kolb.
Kajian dari Georgetown University juga memperkuat fakta bahwa audiens kini telah berubah dari penerima informasi pasif menjadi penentu penyebaran konten. Siklus ini digerakkan oleh algoritma, influencer, serta respons pengguna lewat fitur komentar dan tanda suka.