Iran dan Amerika Serikat Siap Tandatangani Perjanjian Damai Jarak Jauh
Pemerintah Iran dan Amerika Serikat bersiap menandatangani draf kesepakatan damai secara digital dari jarak jauh dalam beberapa hari mendatang untuk mengakhiri perang yang pecah sejak Februari lalu, dilansir dari Detikcom pada Sabtu (13/6/2026).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjelaskan bahwa penandatanganan memorandum tersebut akan segera diumumkan ke publik begitu tahapan akhir dari negosiasi kedua belah pihak telah rampung diselesaikan.
"Segera setelah tahap akhir negosiasi kami selesai, perjanjian ini akan ditandatangani dan diumumkan. Penandatanganan awalnya akan dilakukan secara digital. Masing-masing pihak akan menandatangani dari jarak jauh. Setelah itu, akan diumumkan bahwa nota kesepahaman ini telah ditandatangani oleh kedua belah pihak," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Proses perancangan kesepakatan damai yang dinamakan Nota Kesepahaman Islamabad tersebut diakui sudah berada pada posisi yang sangat dekat demi menyudahi eskalasi pertempuran.
"Ini bisa terjadi dalam beberapa hari mendatang. Saya sangat berharap." kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Araghchi menambahkan bahwa rincian isi dari draf perdamaian belum bisa dipublikasikan saat ini demi kelancaran proses penandatanganan dan untuk menghindari potensi hambatan.
"Itulah poin pertama yang disebutkan dalam perjanjian," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Kendati demikian, kesepakatan tersebut dipastikan memuat poin pencabutan blokade laut Amerika Serikat di pelabuhan Iran yang berlangsung sejak April, serta regulasi baru jalur pelayaran Selat Hormuz.
"Iran telah mengambil keputusan tegas bahwa pengelolaan Selat Hormuz tidak akan sama seperti sebelumnya," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Terkait pengelolaan Selat Hormuz, pihak Iran mengonfirmasi bahwa komunikasi intensif terus dijalankan bersama dengan Oman karena kawasan tersebut menjadi instrumen penangkal yang krusial.
"Posisi kami selalu bahwa satu-satunya cara untuk menangani persediaan material yang diperkaya adalah dengan mengencerkannya di dalam Iran," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Masalah pengayaan uranium Iran juga dijadwalkan masuk ke dalam pembahasan lanjutan dalam jangka waktu 60 hari setelah kerangka kerja resmi disepakati.
"Saya harus jujur mengatakan bahwa perjanjian ini memiliki musuh, yang terpenting adalah rezim Zionis, yang mencari dalih untuk menggagalkannya," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Rencana perdamaian ini sebelumnya diperkuat oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (11/6) yang mengumumkan pembatalan rencana serangan udara ke wilayah Iran.