Pakistan Mediasi Kesepakatan Damai Amerika Serikat dan Iran
Rancangan akhir kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah disetujui melalui mediasi intensif dari Pakistan pada Sabtu (13/6/2026). Dilansir dari Detikcom, peran Islamabad sebagai penengah selama berbulan-bulan membawa momentum perdamaian kedua negara ke titik terdekat.
Perkembangan signifikan tersebut disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui akun media sosial pribadinya. Sharif menyatakan kesiapan pihaknya dalam mengawal kelanjutan proses diplomatik tersebut bersama kedua negara terkait.
"Kami dapat mengkonfirmasi bahwa teks akhir kesepakatan damai yang telah disepakati telah tercaat dan Pakistan sekarang bekerja sama erat dengan kedua pihak untuk menyelesaikan langkah selanjutnya," tulis Sharif di X dilasnir AFP, Sabtu (13/6/2026).
Dalam unggahan yang sama, pemimpin Pakistan tersebut turut menandai akun milik Presiden AS Donald Trump beserta jajaran pemimpin Iran lainnya. Hubungan bilateral yang tegang kini dinilai memperlihatkan sinyal positif.
"Perdamaian tidak pernah sedekat sekarang," kata Sharif.
Meskipun demikian, situasi eksternal masih diwarnai ketegangan politik serta isu sabotase informasi. Sharif menambahkan adanya pihak-pihak tertentu yang mencoba mengganggu kelancaran proses negosiasi yang sedang berlangsung.
"Di tengah upaya mediasi intensif yang sedang berlangsung oleh Pakistan, kami sepenuhnya menyadari kampanye disinformasi yang terus-menerus dilakukan oleh mereka yang ingin menyabotase kesepakatan damai," tambah Sharif.
Di sisi lain, respons berbeda muncul dari pihak Teheran mengenai dinamika negosiasi ini. Hubungan kedua belah pihak sempat diwarnai ketegangan akibat tuduhan dari Washington.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri perang di Timur Tengah tidak pernah sedekat ini, Donald Trump dengan marah menuduh Teheran bernegosiasi dengan itikad buruk.
Sebelumnya, Gedung Putih merilis pernyataan bahwa Iran telah menyetujui perjanjian berbasis kinerja yang menuntut pemenuhan kewajiban tertentu sebelum pelonggaran sanksi diberikan. Dilansir Anadolu Agency, seorang pejabat Gedung Putih merinci poin kesepakatan yang mencakup pembongkaran program nuklir Iran.
Pejabat tersebut juga menegaskan ketentuan penutupan akses keuangan bagi Teheran selama kewajiban belum dipenuhi. Selain itu, kesepakatan juga mengatur jaminan keamanan di jalur maritim internasional serta penghentian sokongan dana terhadap jaringan tertentu.
"tidak ada uang mereka yang akan dilepaskan sampai mereka memenuhi kewajibannya." ujar Pejabat Gedung Putih.
Melalui kesepakatan ini, material nuklir milik Iran nantinya akan dihancurkan sekaligus dipindahkan sepenuhnya. Jalur perdagangan di Selat Hormuz juga dipastikan akan tetap dibuka bebas untuk pelayaran internasional dan Iran menyetujui penghentian pendanaan terhadap kelompok teroris.