OpenAI Digugat atas Dugaan Kelalaian yang Menyebabkan Kematian Remaja
Perusahaan teknologi OpenAI menghadapi gugatan hukum atas dugaan kelalaian yang menyebabkan kematian setelah sebuah kecerdasan buatan dituduh gagal memberikan proteksi kesehatan mental kepada seorang remaja asal Kanada.
Gugatan tersebut resmi diajukan oleh seorang ibu bernama Kristie Carrier ke pengadilan San Francisco pada Jumat (12/6/2026), seperti yang dilansir dari Bloombergtechnoz.
Langkah hukum ini diambil setelah putrinya, Alice Carrier, meninggal dunia karena tindakan bunuh diri pada Juli 2025 lalu setelah berinteraksi dengan ChatGPT.
Pihak keluarga menyatakan bahwa ChatGPT tidak menghentikan percakapan yang berisiko tinggi dan justru memperkuat pola pikir keliru dari korban selama periode 2023 hingga 2024.
Sistem keamanan dari OpenAI dinilai tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi atau mengalihkan obrolan tersebut kepada saluran perlindungan kesehatan mental yang lebih kompeten.
Melalui kuasa hukumnya, keluarga korban menuntut ganti rugi materiil serta meminta pengadilan memerintahkan pemasangan sistem pengaman yang lebih ketat pada ChatGPT.
"Seperti yang dituduhkan dalam pengaduan, keputusan desain OpenAI yang disengaja menyebabkan bunuh diri yang tragis ini. Alih-alih memberikan bantuan, OpenAI mendorong perilaku bunuh diri. Gugatan ini adalah tentang akuntabilitas atas Tindakan OpenAI," kata Justin Nelson, mitra di Susman Godfrey.
Pihak OpenAI merespons tuntutan tersebut dengan menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas tragedi yang menimpa keluarga korban.
Perusahaan memberikan klarifikasi bahwa riwayat interaksi yang menjadi basis materi gugatan tersebut terjadi pada sistem ChatGPT versi lama.
Manajemen OpenAI kini mengklaim terus melakukan pembaruan fitur keselamatan dengan menggandeng para pakar medis guna mendeteksi tanda-tanda krisis psikologis pengguna secara dini.