Investor Asing Belum Kembali ke Bursa Saham Indonesia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pulih lebih dari 12 persen dari posisi terendah tahun ini, namun investor asing belum kembali ke bursa saham Indonesia dengan catatan net sell mencapai Rp80 triliun sejak awal tahun pada Jumat (12/6/2026).
Penjualan bersih asing yang masif di bursa domestik dipengaruhi oleh kehadiran alternatif investasi global seperti penawaran umum perdana atau IPO SpaceX di Amerika Serikat, serta tingginya premi risiko di dalam negeri, dilansir dari Bloomberg Technoz.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai penawaran umum perdana SpaceX menjadi salah satu daya tarik baru bagi pengelola dana global.
"Bagi fund manager global, fenomena ini menciptakan alternatif investasi baru yang sangat besar sehingga sebagian likuiditas global berpotensi tetap bertahan di AS dibanding mengalir ke emerging markets," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Liza menambahkan bahwa setelah SpaceX, pasar global mengantisipasi IPO teknologi besar seperti OpenAI dan Anthropic, sementara pasar Indonesia masih bertumpu pada sektor perbankan, komoditas, konsumsi, dan hilirisasi.
"Piala dunia bukan risiko pasar, tapi risiko leakage likuiditas," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Turnamen sepak bola tersebut diperkirakan memicu perputaran dana besar yang berpotensi mengurangi likuiditas untuk konsumsi dan investasi produktif domestik, mengingat besarnya transaksi serupa di Indonesia pada tahun sebelumnya.
"With Indonesia mencatat transaksi judol Rp286,8 triliun pada 2025, potensi dana yang berputar ke judi bola selama turnamen dapat mencapai Rp30-60 triliun." ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Kendati demikian, faktor utama hengkangnya dana asing tetap bersumber dari evaluasi para pemodal terhadap kondisi makroekonomi dan tata kelola di Indonesia.
"Akar persoalan sebenarnya belum berubah. Investor global masih menuntut risk premium lebih tinggi terhadap Indonesia akibat kombinasi pelemahan rupiah, kekhawatiran fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta isu governance dan kredibilitas pasar modal," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Berbagai dinamika global maupun aksi demonstrasi mahasiswa di dalam negeri dinilai menjadi pendorong bagi pemodal internasional untuk menangguhkan investasi mereka.
"Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai alasan tambahan untuk menunda, sementara akar persoalan tetap berada pada tingginya risk premium Indonesia akibat pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran fiskal dan governance," terang Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Di tengah tekanan tersebut, perbaikan mulai terlihat dari stabilitas rupiah setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen, serta meredanya tensi geopolitik global.
Pasar keuangan Indonesia selanjutnya menantikan pelaksanaan MSCI Market Accessibility Review pada 19 Juni dan FTSE Russell Rebalancing pada 22 Juni.