IHSG Anjlok Dua Persen Akibat Tekanan Rupiah dan Geopolitik

Share

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia merosot tajam sebesar 2 persen atau 136,33 poin ke level 6.462,91 pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026 pukul 11.11 WIB. Penurunan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta respons pelaku pasar terhadap ketidakpastian geopolitik global.

Data dari CNBC Indonesia menunjukkan sebanyak 454 saham mengalami penurunan, 212 saham menguat, dan 293 saham stagnan. Nilai transaksi di pasar modal tercatat mencapai Rp10,61 triliun dengan keterlibatan 17,34 miliar saham yang berpindah tangan.

Kondisi pasar saham domestik bergerak searah dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis baru ke posisi Rp17.700 per dolar AS. Padahal, pada saat yang sama indeks dolar AS atau DXY terpantau melemah sebesar 0,11 persen menuju level 99,094.

Selain faktor nilai tukar, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut menekan sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi penundaan serangan militer skala besar, namun ketidakpastian di jalur distribusi minyak Selat Hormuz membuat para investor global tetap bersikap hati-hati.

Di sisi lain, pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang menanti kepastian arah suku bunga acuan domestik. Sentimen ini muncul di tengah ekspektasi bahwa Bank Indonesia berpotensi menaikkan tingkat suku bunga guna meredam laju depresiasi mata uang rupiah.

"Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400- 6.700," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Ratna Lim menambahkan bahwa kenaikan biaya pinjaman akibat peningkatan suku bunga berisiko menaikkan beban bunga perusahaan serta menggerus daya beli masyarakat secara luas.

"Berdasarkan analisa teknikal, IHSG masih terlihat oversold berdasarkan indikator RSI dan sudah berhasil menguji target 'wave 5 / A'. Sementara itu, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai mengalami penaikan," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, dalam keterangannya, Selasa (19/5).

Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa pelemahan mata uang rupiah ke kisaran Rp17.668 hingga Rp17.681 per dolar AS memicu keprihatinan pelaku pasar atas risiko investasi di aset domestik.

"Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia," ujar Nafan.

Akibat koreksi tajam tersebut, beberapa perusahaan sekuritas menyarankan investor untuk mencermati peluang trading jangka pendek pada saham-saham pilihan yang mulai memasuki area jenuh jual.

"IHSG berpotensi menguat seiring pelemahan sudah terbatas dan pelemahan harga minyak seiring Presiden Trump menunda serangan baru ke Iran," sebut Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia Azharys Hardian dalam risetnya.

Azharys Hardian menilai potensi penguatan indeks didorong oleh koreksi pasar yang mulai terbatas setelah sebelumnya IHSG sempat ditutup melemah 1,85 persen pada perdagangan Senin kemarin.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: geopolitik ihsg rupiah saham
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author