DPR Soroti Masalah Fiskal Domestik Picu Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Persoalan serius pada sektor fiskal domestik dinilai menjadi salah satu pemicu utama terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini, selain akibat adanya tekanan global. Fakta tersebut diungkapkan oleh Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino pada Kamis (21/5/2026) seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Harris Turino menjelaskan bahwa permasalahan internal tersebut mencakup defisit anggaran, kondisi neraca berjalan atau current account, serta penurunan kepercayaan investor global terhadap stabilitas perekonomian nasional. Aliran modal keluar dalam jumlah besar juga memperparah tekanan terhadap mata uang negara.
"Ini memang diakui tekanan global sangat besar, tetapi harus diakui juga bahwa ada masalah serius di domestik. Ini harus jujur diakui. Ada masalah di fiskal, ada masalah di defisit, di current account, da arus modal keluar dalam jumlah besar. Dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia," kata Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI.
Langkah intervensi besar-besaran sebenarnya telah ditempuh oleh Bank Indonesia untuk meredam turbulensi tersebut, termasuk menguras cadangan devisa dari level US$156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$146,2 miliar pada April 2026. Otoritas moneter juga menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dengan imbal hasil hingga 6,4%, membeli SBN di pasar sekunder senilai Rp332 triliun pada 2025 ditambah Rp133 triliun saat ini, serta memperketat threshold pembelian dolar tanpa underlying dari US$50.000 menjadi US$25.000.
Menurut Harris, gejolak finansial saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis moneter tahun 1998 karena struktur utang nasional saat ini didominasi oleh utang domestik, di mana depresiasi kali ini bergerak dari Rp16.500/US$ ke Rp17.700/US$ dibandingkan lonjakan ekstrem dari Rp2.500/US$ ke Rp16.500/US$ pada masa lalu.
"Bagaimanapun juga ini adalah tanggung jawab BI untuk menjaga stabilitas mata uang rupiah," tutur Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI.
Lebih lanjut, Harris memaparkan bahwa pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sentimen pelaku pasar modal yang memilih tidak menempatkan dananya pada Surat Utang Negara saat indeks luar negeri mengalami tekanan.
"Ketika hedge fund keluar dari pasar modal karena tekanan indeks seperti MSCI [Morgan Stanley Capital International] dan yield surat utang negara naik, seharusnya dana itu masuk ke SUN. Tetapi data menunjukkan tidak masuk ke surat utang negara. Artinya ada isu kepercayaan yang cukup besar," terang Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI.
Kondisi tersebut menuntut bank sentral untuk merumuskan kebijakan yang lebih akomodatif guna menyuplai kebutuhan valuta asing di sektor keuangan maupun sektor riil secara tepat sasaran.
"Kalau punya data yang benar, berapa sih kebutuhan dolar dari hedge fund, dari pasar keuangan. Maka kita bisa tahu kalau kebutuhannya tinggal sedikit, artinya tekanan capital outflow sudah mulai mereda," jelas Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI.
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), mata uang rupiah terpantau masih melemah sebesar 0,33% ke level Rp17.663/US$ pada pukul 10:00 WIB setelah sempat dibuka menyusut 0,2%. Pergerakan negatif pasar tersebut tetap terjadi meskipun Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% demi menjaga stabilitas moneter.