Bank Indonesia Perbarui Kebijakan Moneter demi Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Bank Indonesia memperbarui kebijakan moneter yang difokuskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat imbas konflik di Timur Tengah. Langkah strategis ini disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Rabu, 10 Juni 2026.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, mata uang rupiah menunjukkan penguatan sebesar 0,79 persen ke posisi Rp17.918 per dolar Amerika Serikat saat perdagangan dibuka pada Rabu, 10 Juni 2026. Nilai apresiasi tersebut kemudian bergerak menjadi 0,61 persen ke level Rp17.949 per dolar Amerika Serikat pada pukul 09.12 WIB sebagai respons atas pengetatan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.
Bank Indonesia menyiapkan tujuh bauran kebijakan termasuk intervensi besar-besaran di pasar spot tunai, Domestic Non-deliverable Forward di dalam negeri, maupun off shore Non-deliverable forward untuk menangkal gejolak global. Otoritas moneter memastikan kekuatan internal instrumen pendukung dalam menghadapi tekanan eksternal tersebut.
"Kami yakinkan bahwa cadangan devisa kita lebih dari cukup, 6 bulan impor, termasuk juga pakai ukuran-ukuran standar internasional," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Penyesuaian suku bunga acuan dilakukan karena tren suku bunga global yang terus merangkak naik, di mana Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin pada bulan lalu dan menyisipkan kenaikan terbaru sebesar 25 basis poin. Kebijakan ini ditujukan untuk memicu arus modal masuk ke pasar domestik.
"Untuk inflow dan sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi," jelas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Langkah penarikan modal asing dilakukan melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dengan struktur suku bunga menarik serta insentif penurunan tingkat swap lindung nilai. Selain itu, Bank Indonesia mengaktifkan kembali window lelang Repo dengan tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan demi menjaga kecukupan likuiditas perbankan.
"Sehingga kapan pun, berapa pun bank yang memerlukan likuiditas dengan menggunakan Repo dengan underlying SBN, SRBI maupun yang lain datang bisa datang ke BI," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Pertumbuhan uang primer diproyeksikan tetap tumbuh dua digit di atas 10 persen setelah mencatat realisasi sebesar 11,8 persen pada Maret 2026 dan meningkat menjadi 14,8 persen pada Mei 2026. Bank Indonesia juga membatasi transaksi spekulatif tanpa underlying dengan menurunkan threshold kewajiban laporan beli valas dari 50 ribu dolar Amerika Serikat menjadi 25 dolar Amerika Serikat per pelaku per bulan.
"Sepanjang ada underlying silakan, tapi tentu saja ini untuk mengurangi transaksi-transaksi yang spekulatif," tutur Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Perluasan pasar valas domestik terus digenjot melalui pengaktifan transaksi yuan-rupiah yang mencatatkan realisasi penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi local currency transaction sangat besar di atas 25 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun lalu.
"Sekarang tahun ini per bulan US$3,7 miIiar bahkan mendekati US$4 miIiar dan ini kami gunakan untuk pengembangan transaksi yuan dan rupiah di dalam negeri yang terhubung dengan Hongkong dan China Daratan.
Kerja sama local currency transaction ini juga diperluas ke negara mitra utama lain di Asia untuk meminimalkan ketergantungan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat.
"Kami juga terus mendukung mendorong penggunaan transaksi currency dengan lokal khususnya juga dengan Indonesia dan Jepang. Yen-rupiah telah banyak juga digunakan," imbuh Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Pengawasan ketat terhadap transaksi valas perbankan dan korporasi kini diintensifkan agar seluruh aktivitas pembelian memiliki dasar underlying yang jelas. Penegakan aturan ini dijalankan secara kolaboratif bersama lembaga pengawas keuangan nasional.
"Itu kami BI dan OJK melakukan pengawasan secara langsung," imbuh Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.