Hasil Survei Bank Indonesia Mei 2026 Tunjukkan Keyakinan Konsumen Turun
Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Mei 2026 mengindikasikan bahwa fundamental konsumsi rumah tangga nasional masih berada di posisi yang cukup kuat. Namun, kualitas optimisme dari masyarakat mulai memperlihatkan tanda-tanda penurunan.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mengalami penurunan ke angka 120 pada periode Mei 2026. Angka tersebut tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan pencapaian pada April 2026 yang menyentuh level 123.
Secara indikator, skor IKK yang berada di atas level 100 sebenarnya mencerminkan bahwa barisan konsumen masih memandang kondisi ekonomi saat ini hingga enam bulan mendatang dengan cara yang optimistis. Kendati demikian, pencapaian IKK pada Mei 2026 tersebut menjadi catatan yang paling rendah sepanjang delapan bulan terakhir.
Kondisi ini memberikan sebuah gambaran bahwa lapisan masyarakat mulai merasakan adanya tekanan ekonomi. Tekanan tersebut utamanya terjadi pada sektor pendapatan, lapangan pekerjaan, serta kemampuan dalam membeli barang-barang yang memiliki nilai besar.
Walaupun ada tekanan, ekspektasi untuk kurun waktu enam bulan ke depan terpantau tetap tinggi. Kondisi tersebut menandakan bahwa masyarakat masih menyimpan kepercayaan bahwa situasi perekonomian ke depan akan mengalami perbaikan.
Peningkatan ekspektasi masyarakat ini didorong oleh aspek perkiraan lapangan kerja yang naik menuju angka 128,1. Selain itu, aspek ekspektasi untuk kegiatan usaha juga mengalami kenaikan hingga mencapai posisi 124,5.
Melalui data tersebut, publik dinilai masih memercayai bahwa korporasi bakal melakukan ekspansi kembali. Peluang kerja juga diperkirakan membaik seiring dengan aktivitas bisnis yang diproyeksikan meningkat dalam jangka waktu enam bulan ke depan.
Faktor lain yang menyokong optimisme ini adalah belanja pemerintah yang tetap bergulir serta pengerjaan proyek infrastruktur yang terus berjalan. Kondisi pasar tenaga kerja yang berada di tingkat relatif stabil turut menjadi pendorong sentimen positif tersebut.
Tetapi, kekuatan dari optimisme ini mulai melemah akibat proyeksi penghasilan yang justru turun tipis. Data menunjukkan ekspektasi penghasilan bergerak turun dari angka 136,9 menjadi 136,5.
Laporan IKK tersebut juga memperlihatkan adanya penurunan pada tabungan konsumen. Rasio tabungan atau saving ratio tercatat menyusut menjadi 17,5% pada Mei 2026, dari posisi sebelumnya pada April 2026 yang berada di angka 18,2%.
Pada waktu yang bersamaan, rasio cicilan masyarakat justru merangkak naik menjadi 10,2% dari yang sebelumnya sebesar 9,7%. Meski begitu, tingkat konsumsi rumah tangga dilaporkan tetap terjaga pada level 72,3% dari posisi sebelumnya yang berada di angka 72,1%.
Tingkat konsumsi yang bertahan ini menandakan rumah tangga tetap menjaga pola pengeluarannya meski harus mengurangi porsi tabungan dan menambah beban utang. Secara makro, fenomena ini dapat terjadi apabila pertumbuhan pendapatan tidak berjalan secepat peningkatan kebutuhan pengeluaran.
Berdasarkan analisis dari Samuel Sekuritas, data IKK ini menjadi indikasi bahwa permintaan domestik di dalam negeri sedang menuju fase normalisasi, bukan dalam tahap akselerasi.
Hasil survei konsumen pada periode Mei 2026 ini juga memperlihatkan bahwa tekanan inflasi dari sisi permintaan masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali. Hal itu terjadi walaupun inflasi umum atau headline inflation belakangan ini mengalami kenaikan.
"Kondisi ini memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan sikap kebijakan moneternya saat ini sambil tetap memfokuskan perhatian pada stabilitas nilai tukar rupiah," sebut Samuel Sekuritas dalam catatannya.
Pihak Samuel Sekuritas memproyeksikan adanya risiko penurunan sentimen yang jauh lebih dalam ke depan. Potensi tersebut bisa muncul apabila tidak ada dukungan stimulus fiskal yang memadai serta perbaikan pada prospek dunia usaha.
Sebab, tekanan terhadap daya beli rumah tangga dalam jangka pendek berpotensi terus berlanjut. Hal ini dipicu oleh kebijakan moneter yang ketat, kenaikan inflasi pangan, serta nilai tukar rupiah yang masih mengalami depresiasi.