Anak Berbakat Cenderung Hindari Tantangan Akibat Beban Ekspektasi

Share

Anak-anak yang memiliki bakat sejak kecil dilaporkan cenderung menghindari berbagai tantangan baru karena merasa terbebani oleh ekspektasi tinggi dari lingkungan sekitar pada Rabu, 20 Mei 2026. Tekanan tersebut muncul akibat label pintar yang melekat sehingga memicu rasa takut melakukan kesalahan.

Kecenderungan untuk menghindari risiko ini terjadi karena anak berbakat sering kali menuntut kesempurnaan pada diri mereka sendiri. Seperti dilansir dari HaiBunda, sikap perfeksionis tersebut membuat mereka memandang kegagalan sebagai bentuk penurunan nilai diri, bukan sebagai proses belajar.

Kondisi psikologis para siswa ini dikonfirmasi oleh tenaga pendidik yang menangani kelompok tersebut. Label usia dini dinilai menjadi pemicu utama kecemasan mereka.

"Siswa berbakat sering diberi label ‘anak pintar’ sejak dini. Namun, label ini bisa menjadi tekanan karena membuat mereka merasa harus selalu berhasil dan takut melakukan kesalahan," kata seorang tenaga pendidik siswa berbakat, Wess Carroll, dilansir dari Silicon Canals.

Respons dari lingkungan ketika anak mengalami kegagalan turut membentuk pola pikir tersebut. Saat mereka gagal memenuhi target, kekecewaan yang ditunjukkan orang tua membuat anak merasa harus selalu tampil sempurna tanpa cela.

Selain masalah perfeksionisme, aspek emosional juga memegang peranan penting dalam perkembangan anak berbakat. Mereka diketahui memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak pada umumnya.

"Siswa berbakat sering diberi label ‘anak pintar’ sejak dini. Namun, label ini bisa menjadi tekanan karena membuat mereka merasa harus selalu berhasil dan takut melakukan kesalahan," kata seorang tenaga pendidik siswa berbakat, Wess Carroll, dilansir dari Silicon Canals.

Penelitian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa anak berbakat sering mengalami kecemasan berlebih terhadap penilaian orang lain. Ketakutan akan hilangnya pujian membuat mereka lebih memilih berada di zona aman.

Karakter perfeksionis ini berisiko terbawa hingga mereka memasuki dunia kerja dan berpotensi menghambat perkembangan karier. Oleh karena itu, dukungan emosional dari orang tua sangat dibutuhkan melalui pelatihan sosialisasi, keterbukaan dalam mendengar, serta penanaman sikap rendah hati sejak dini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author