Israel Gempur Iran Abaikan Desakan Donald Trump untuk Menahan Diri
Militer Israel mengumumkan telah meluncurkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran militer di Iran. Aksi tersebut menjadi tanda bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengabaikan imbauan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menahan diri dari peningkatan konflik.
Seperti diberitakan oleh Bloombergtechnoz, langkah ini merupakan bentuk respons atas gelombang rudal yang dilepaskan oleh Teheran sebelumnya. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa operasi mereka menyasar beberapa target di wilayah barat dan tengah Iran.
Sementara itu, media resmi pemerintah Iran melaporkan terdengarnya serangkaian ledakan keras di ibu kota Teheran. Sebelum melancarkan serangan balasan, pihak IDF mengklaim telah mengidentifikasi dan mencegat rudal dari Iran, serta memastikan tidak ada korban jiwa berdasarkan laporan layanan darurat setempat.
Mohsen Rezaee, penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Iran, memberikan pernyataan kepada kantor berita semi-pemerintah Iranian Students' News Agency (ISNA). Ia menyebut peluncuran rudal ke Israel adalah peringatan agar menghentikan tindakan permusuhan di Lebanon.
Ketegangan terbaru ini menyusul perselisihan yang kian meruncing antara Israel dan Hizbullah. Pada Minggu dini hari, kelompok asal Lebanon tersebut menggempur wilayah utara Israel. Militer Israel kemudian merespons dengan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut yang menewaskan dua orang dan melukai 11 orang.
Di sisi lain, proses negosiasi antara AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan damai sementara dilaporkan masih berjalan di tempat tanpa kemajuan berarti. Trump sebenarnya telah memperingatkan Netanyahu melalui telepon pada hari Minggu agar tidak melakukan aksi balasan dan memberi waktu bagi diplomasi.
Secara terpisah, Presiden AS tersebut juga menegaskan kepada Financial Times bahwa sejawatnya di Israel itu harus menerima kesepakatan apa pun yang nantinya dicapai antara AS dan Iran.
"Saya yang memegang kendali. Saya yang menentukan semua keputusan," tegas Trump.
Ia menambahkan bahwa Netanyahu "bukan pihak yang menentukan."