Gempa Susulan NTT Tembus 3.752 Kali dan Bikin Puluhan Ribu Mengungsi

Share

Penanganan dampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur terus berlanjut di tengah gelombang gempa susulan yang tercatat telah mencapai 3.752 kali hingga Kamis, 20 Agustus 2026. Bencana ini telah menelan 72 korban jiwa dan memaksa lebih dari 82 ribu warga mengungsi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat peningkatan akumulasi guncangan susulan yang masih dirasakan hingga Kamis sore. Petugas di lapangan turut merasakan guncangan signifikan berjarak tak jauh dari pusat gempa utama.

"Hingga hari ini, Kamis 20 Agustus 2026, itu pada pukul 16.00 WIB, total jumlah gempa susulan sudah mencapai 3.752," kata Berton Suar Pelita Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Pihak otoritas kebencanaan meminta masyarakat untuk terus mewaspadai potensi bahaya struktural pada tempat tinggal mereka. Pemeriksaan kondisi bangunan secara cermat menjadi hal krusial sebelum memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.

"Gempa ini terus dirasakan baik yang besar maupun kecil, dan kami sendiri dari pagi hari merasakan gempa susulan yang sangat besar. Pada pukul 10.47 menit waktu setempat, kami merasakan gempa berkekuatan 5,7 magnitudo," kata Berton Suar Pelita Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Ancaman gempa susulan juga berimbas pada keselamatan warga di luar reruntuhan material. Di Kabupaten Manggarai, guncangan susulan berkekuatan magnitudo 6,0 pada Kamis siang memicu kepanikan warga hingga mengakibatkan seorang warga berusia 56 tahun meninggal dunia akibat serangan jantung.

"Dengan masih banyaknya gempa susulan dan tergolong besar, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan tetap siap siaga. Bagi bagi warga di daerah terdampak, perlu dipastikan kondisi bangunan apabila akan memasuki bangunan tersebut," kata Berton Suar Pelita Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Verifikasi data infrastruktur terkini menunjukkan kenaikan jumlah rumah yang mengaami kerusakan hingga menembus 36.163 unit. Selain pemukiman warga, ratusan fasilitas pendidikan, kesehatan, rumah ibadah, dan jalan raya turut mengalami kerusakan.

"Rumah yang rusak menurut data kami, kami perbaharui data-data kami ini menjadi 36.163 unit. Bertambah di catatan kami karena pendataan yang semakin akurat ada 7.187 unit," kata Berton Suar Pelita Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Guna menopang kebutuhan harian para pengungsi di berbagai titik pasokan logistik terus digelontorkan. Puluhan ton bantuan dikirimkan setiap hari melalui jalur darat dan udara.

"Kami menyampaikan bahwa per tanggal 19 Agustus 2026, logistik yang dikirimkan sebesar 167 ton. Dan hari ini kami juga sudah berhasil mengirimkan 42 ton untuk donasi dan 60 ton untuk dari dana DSP, sehingga total hari ini yang bisa dikirim mencapai 102 ton," kata Berton Suar Pelita Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Masyarakat di daerah terpencil juga menghadapi trauma mendalam hingga memilih bertahan di tenda rakitan mandiri. Sementara itu, di tengah kehancuran, seorang nenek berusia 84 tahun berhasil dievakuasi selamat setelah empat hari tertimpa reruntuhan rumahnya di Pulau Palue, Kabupaten Sikka.

"Dia tinggal sendiri di kebun yang agak jauh dari permukiman penduduk. Kami bersyukur dia bisa selamat," kata Maria Lorika, warga Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, NTT.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto memproyeksikan aktivitas gempa susulan masih berpotensi berlangsung hingga tiga pekan ke depan. Kendati demikian, ia memastikan kekuatan guncangan cenderung meluruh dan tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.

"Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu ke depan menurut B MKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama.

Bahkan jika ada isu akan terjadi tsunami menurut BMKG itu tidak mungkin. Ini menurut riset ilmu pengetahuan," kata Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Sektor pelayanan medis menjadi fokus utama mengingat tingginya angka cedera fisik pada para penyintas. Kementerian Kesehatan telah memfungsikan dua rumah sakit lapangan darurat di Ruteng dan Aeramo untuk menangani cedera berat.

"Itu sudah beroperasi kemarin, dan sudah bisa melakukan operasi, terutama patah tulang karena banyak sekali yang patah tulang di (bagian) sini, (bagian) sini, sekarang sudah beroperasi dua rumah sakit itu," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Pendirian tenda medis darurat dilakukan sebagai langkah responsif terhadap hancurnya sejumlah gedung fasilitas kesehatan di daerah terisolir. Bahkan, para dokter dan bidan sempat melakukan proses persalinan dan operasi darurat di bawah naungan tenda darurat saat gempa awal terjadi.

"Kami laporkan ada dua rumah sakit lapangan yang kami kirimkan. Di Rumah Sakit Ruteng karena cukup parah dan hari ini telah melakukan operasi di tenda, termasuk juga di Rumah Sakit Aeramo Nagekeo, kita operasikan hari ini, sudah berjalan. Dua rumah sakit ini membantu puskesmas-puskesmas yang terdampak gempa," kata Sumarjaya, Ketua Satuan Tugas Bencana Kemenkes.

Pemerintah juga memprioritaskan pemulihan akses kesehatan pada puskesmas terdampak di kawasan yang terisolasi geografi. Tim medis darurat diterjunkan langsung untuk menembus wilayah sulit di Manggarai dan Manggarai Timur.

"Daerah di kedua puskesmas ini sangat sulit. Oleh karena itu kami mengirimkan tenaga medis darurat atau Emergency Medical Team (EMT) untuk memberikan layanan di sana dan mengevakuasi masyarakat yang memang perlu dirujuk di rumah sakit," kata Sumarjaya, Ketua Satuan Tugas Bencana Kemenkes.

Perjuangan tenaga medis di tengah bahaya juga dirasakan langsung oleh para pasien melahirkan yang berada di area terdampak saat bencana melanda.

"Semua peralatan rusak, gedung sudah tidak layak digunakan, dan listrik padam sehingga proses persalinan harus dilakukan di tenda darurat," kata Pramita Sari, Dokter RSUD Aeramo.

Ketabahan para perawat dan dokter mendampingi pasien di tengah situasi kritis mendapat apresiasi tinggi dari para penyintas yang berhasil diselamatkan.

"Semua orang berpikir untuk menyelamatkan diri, tetapi para bidan dan dokter tetap bersama kami karena kami masih membutuhkan bantuan mereka," kata Maria Florida Nogo Kelen, Ibu Bayi Penyintas Gempa.

Guna memantau penanganan pengungsi, Wakil Presiden Gibran Rakabuming mendatangi lokasi pengungsian di Sikka untuk menyalurkan perlengkapan bayi dan logistik anak. Pemprov NTT resmi menetapkan masa tanggap darurat bencana gempa bumi hingga 28 Agustus 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author