Kurs Rupiah Melemah ke Rp18.101 per Dolar AS Akibat Tensi Timur Tengah

Share

Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau masih tertahan di level Rp18.082/US$ setelah sempat menguat 0,3%.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, penguatan mata uang Garuda kemudian menyusut menjadi 0,19% ke posisi Rp18.101/US$ pada pukul 06:39 WIB.

Memburuknya sentimen global kembali memicu tekanan terhadap pergerakan rupiah, ditandai dengan indeks dolar AS yang melambung ke posisi 100,11 terhadap enam mata uang utama.

Harga minyak dunia kembali melonjak tajam akibat serangan rudal Iran ke arah Israel yang memicu kekhawatiran gagalnya upaya gencatan senjata.

Minyak Brent sempat melesat hingga 3,6% menuju level US$96,47 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$94 per barel sebelum memangkas sebagian penguatan.

Situasi ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.

Pelemahan akibat penguatan dolar AS juga melanda kawasan Asia, di mana dolar Singapura turun 0,05%, yen Jepang melemah 0,02%, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01%.

Kondisi Cadangan Devisa Domestik

Perhatian pasar di dalam negeri saat ini tertuju pada perilisan data cadangan devisa Indonesia yang menjadi indikator penting stabilitas nilai tukar.

Posisi cadangan devisa pada akhir April tercatat sebesar US$146,2 miilar atau setara dengan 5,8 bulan impor, masih berada di atas standar kecukupan internasional.

Meskipun memiliki bantalan eksternal yang kuat, tren penurunan cadangan devisa selama empat bulan berturut-turut mulai menjadi perhatian pelaku pasar.

Sepanjang kuartal I-2026, cadangan devisa berkurang US$8,2 miliar, dan akumulasi penurunan hingga April mencapai sekitar US$10,27 miliar akibat intervensi di pasar valas dan obligasi.

Risiko rupiah untuk menguji area Rp18.050-Rp18.150/US$ dalam waktu dekat masih terbuka akibat kombinasi kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, dan penurunan cadangan devisa.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author