Bank Indonesia Siapkan Lima Langkah Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Share

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyiapkan lima langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik setelah adanya kebijakan kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen pada Rabu (20/5/2026).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, pelonggaran likuiditas moneter menjadi langkah pertama yang ditempuh demi menjaga ketersediaan dana di pasar uang dan perbankan tetap memadai.

"Kami kenapa ini membeli SBN dari pasar sekunder agar memastikan likuiditas di pasar uang dan perbankan lebih dari cukup bagi bank untuk menyalurkan kredit dan meminimalkan dampaknya terhadap kenaikan suku bunga baik di deposito maupun di kredit," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur BI.

Langkah kedua berfokus pada peningkatan nilai Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang hingga Mei 2026 telah menyentuh angka Rp424,7 triliun untuk sektor-sektor strategis.

Penyaluran dana stimulus tersebut menyasar bank BUMN sebesar Rp214,2 triliun, bank swasta senilai Rp171,1 triliun, serta Bank Pembangunan Daerah sebesar Rp30,6 triliun.

"Dari kebijakan makroprudensial longgar memberikan insentif likuiditas kepada bank-bank yang menyalurkan kredit dan menurunkan suku bunga yang menjaga suku bunga kreditnya tetap rendah," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Upaya ketiga diwujudkan melalui perluasan cakupan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) guna meningkatkan kapasitas intermediasi perbankan nasional.

Melalui kebijakan ini, otoritas moneter mewajibkan perbankan tanah air untuk menjaga rasio intermediasi mereka pada rentang 84 persen hingga 94 persen.

"Kami mendorong pemenuhan 84% sampai 94%ini adalah memperluas cakupannya dari sisi liabilities atau funding, kami memperluas cakupannya tidak hanya dana pihak ketiga yang tradisional ya rekening giro, tabungan deposito, tapi juga penerbitan sekuritas surat berharga, baik konvensional maupun syariah," jelas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Strategi keempat melibatkan peluncuran program percepatan intermediasi nasional PINISI sebagai wadah koordinasi lintas sektor.

Sinergi ini mempertemukan Bank Indonesia dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dunia usaha, serta industri perbankan.

"Kami bersinergi, erat dengan pemerintah, perbankan, dunia usaha untuk mengatasi permasalahan baik dari sisi penawaran perbankan maupun permintaan dunia usaha untuk sektor-sektor tentu saja dari sektor ke sektor apa yang dilihat perbankan masalahnya apa yang dilihat oleh Dunia Usha kami bersinergi untuk mengatasi itu," katanya Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Langkah kelima ditempuh dengan mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran melalui instrumen QRIS serta pengembangan program perluasan inklusi digital ekonomi wirausaha (PIDI).

Melalui berbagai kebijakan tersebut, Bank Indonesia memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author