Harga Bitcoin Anjlok di Bawah US$60.000 Akibat Ledakan Tren Investasi AI
Harga Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga di bawah level US$60.000 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024. Penurunan ini memperpanjang tren negatif mata uang kripto terbesar tersebut, yang kini dinilai kehilangan daya tarik spekulatifnya di pasar global.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, Bitcoin anjlok hingga 7% ke posisi US$59.101 selama jam perdagangan di New York pada hari Jumat. Aset digital ini telah kehilangan lebih dari separuh nilainya sejak mencapai puncak tertinggi di atas $126.000 pada Oktober tahun lalu.
Koreksi dalam pada pasar kripto didorong oleh aksi penarikan dana investor dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin. Selain itu, ketegangan geopolitik yang kembali memanas dan kekhawatiran terhadap ketahanan permintaan pasar memperburuk situasi keuangan sektor ini.
Perusahaan Strategy Inc. milik Michael Saylor kini menjadi pusat perhatian pasar setelah mengumumkan penjualan token yang tergolong jarang terjadi. Langkah ini memicu kekhawatiran baru mengenai model arus kas dari aset digital tersebut.
Lanskap ekonomi saat ini dinilai kurang menguntungkan bagi industri kripto secara keseluruhan. Aliran modal investor yang sebelumnya mengalir secara otomatis ke kripto kini mulai terpecah ke berbagai instrumen spekulatif lain, terutama ke sektor kecerdasan buatan (AI).
"Untuk waktu yang sangat lama, kripto adalah investasi populer yang menjadi obsesi Silicon Valley dan berbagai institusi — dan AI telah menggantikannya," kata Michael Antonelli, ahli strategi pasar di Baird, melalui telepon. "Sesederhana itu: AI telah menggantikannya sebagai tren investasi yang populer."
Saham berbasis kecerdasan buatan kini mendominasi perdagangan pertumbuhan di pasar modal. Di sisi lain, investor ritel lebih memilih mengalirkan dana mereka ke opsi jangka pendek, pasar prediksi, stablecoin, serta futures abadi.
Kejatuhan ini juga menyeret performa mata uang kripto skala kecil lainnya. Ether tercatat ambles hingga 13% ke level terendah sejak April 2025, sementara XRP, Solana, dan Dogecoin kompak merosot lebih dari 5%.
Penurunan tajam ini terjadi di tengah momentum politik yang sebenarnya menguntungkan bagi regulasi aset digital di Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Donald Trump telah memberikan kejelasan regulasi dan kerangka legislatif yang memperlakukan aset digital sebagai bagian permanen dari sistem keuangan.
Namun, pencapaian regulasi tersebut justru bertepatan dengan aksi likuidasi besar-besaran senilai miliaran dolar yang membuat struktur pasar menjadi rapuh. Konflik di Iran turut menekan selera risiko investor, sementara ancaman inflasi membuat pelaku pasar lebih memilih memegang emas dibandingkan Bitcoin.
"Jika emas bersaing dengan dolar AS, maka Bitcoin secara efektif bersaing dengan likuiditas global," kata Dean Chen, analis di bursa kripto Bitunix.
"Ketika pasar semakin yakin bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan biaya modal akan tetap tinggi, investor secara alami mengurangi alokasi ke aset yang tidak menghasilkan imbal hasil," tutur Dean Chen.