Zelenskyy Surati Putin Ajak Dialog Tatap Muka

Share

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengirimkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengajak melakukan negosiasi tatap muka, seperti dilansir dari Detikcom.

Surat terbuka ini menjadi pesan publik perdana yang ditulis langsung oleh Zelenskyy kepada Putin sejak Rusia memulai serangan pada tahun 2022.

Melalui surat tersebut, Zelenskyy melayangkan kritik terhadap kekuasaan pemimpin Rusia yang telah berjalan selama 26 tahun.

Pemerintah Rusia menyatakan telah melihat surat tersebut dan akan meneruskannya kepada Putin, meskipun mereka menilai masih banyak pertanyaan yang harus dijawab terkait gencatan senjata.

"Tidak perlu menghentikan permusuhan untuk memulai negosiasi," kata Putin.

Sementara itu, milisi Hizbullah yang mendapatkan dukungan dari Iran menolak draf perjanjian gencatan senjata baru di Lebanon, sedangkan Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

Kelompok milisi ini mengajukan tuntutan penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon karena pertempuran yang terjadi dinilai mengganggu upaya penyelesaian perang Iran.

Pemerintah Iran menetapkan gencatan senjata di Lebanon sebagai prasyarat dalam setiap kesepakatan damai dengan Amerika Serikat, serta memberikan isyarat akan melakukan intervensi langsung jika Israel terus melanjutkan serangan.

Pihak otoritas menyatakan bahwa sikap Hizbullah ini muncul bersamaan dengan serangan Israel yang merenggut sedikitnya empat nyawa, serta gugurnya seorang penjaga perdamaian PBB dalam baku tembak.

Pemimpin Hizbullah, Naim Kassem, menyampaikan pandangannya mengenai proses negosiasi tersebut melalui sebuah pernyataan tertulis yang dibacakan di saluran televisi.

"Konyol, memalukan, dan menghina." kata Naim Kassem.

Pemandu Everest Bertahan Hidup Seminggu Tanpa Oksigen

Dari perkembangan lain, seorang pemandu Sherpa di Gunung Everest yang sempat diperkirakan meninggal dunia ditemukan selamat sewaktu merangkak turun di lereng gunung tertinggi dunia tersebut setelah bertahan tanpa makanan dan oksigen selama sepekan.

Pemandu bernama Dawa Sherpa yang berusia 52 tahun ini sebelumnya dilaporkan hilang pada 29 Mei lalu ketika menempuh perjalanan turun bersama pendaki asal Polandia seusai gagal mencapai puncak setinggi 8.849 meter.

Dawa Sherpa terakhir kali terpantau berada di area atas Camp Tiga, sementara klien pendakinya berhasil kembali ke Base Camp tanpa kejelasan mengenai kronologi terpisahnya mereka.

Pihak perusahaan pendakian Gunung Everest Nepal membagikan informasi mengenai kondisi penyelamatan ini melalui sebuah unggahan di media sosial.

"Dawa bertahan hidup sendirian selama hampir seminggu tanpa makanan, air, atau oksigen tambahan, menavigasi Khumbu Icefall yang berbahaya [bahkan setelah tangga diambil]," kata perusahaan pendakian Gunung Everest Nepal.

Ketegangan Diplomatik China dan Amerika Serikat Terkait Tiananmen

Di ranah diplomatik, Pemerintah China melayangkan tuduhan kepada Amerika Serikat mengenai pemutarbalikan fakta serta pencemaran nama baik terhadap sistem politik mereka terkait peristiwa di Lapangan Tiananmen.

Pada tanggal 4 Juni 1989, pemerintah China mengerahkan pasukan militer beserta tank untuk membubarkan aksi protes reformasi politik yang mengakibatkan ratusan korban jiwa.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, memberikan pernyataan tegas mengenai pentingnya mengingat sejarah dalam sebuah konferensi pers resmi.

"Tidak ada jumlah sensor yang dapat menghapus masa lalu." kata Marco Rubio.

Marco Rubio juga menambahkan pandangannya mengenai pengorbanan para demonstran yang menuntut hak-hak mereka.

"Mereka yang berkorban untuk menegakkan hak-hak mereka yang tidak dapat dicabut, yaitu kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai, akan dibenarkan suatu hari nanti," katanya.

Merespons pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyatakan sikap mereka yang menentang keras komentar dari pihak Amerika Serikat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author