Vladimir Putin Tolak Uni Eropa Jadi Mediator Damai dengan Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin menolak keterlibatan para pemimpin Eropa sebagai mediator untuk mengakhiri perang di Ukraina dalam pertemuan dengan media asing di St. Petersburg pada Kamis malam, 4 Juni 2026. Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, Putin secara tegas bersikeras pada kesepakatan damai kompromi yang diklaim telah disepakati bersama Donald Trump di Anchorage, Alaska pada Agustus lalu.
Penolakan tersebut muncul setelah pejabat dari Jerman, Prancis, dan Inggris membahas kemungkinan pembicaraan damai yang melibatkan Rusia dan Ukraina. Ketiga negara Eropa tersebut melihat peluang negosiasi di tengah kebuntuan medan perang, kerugian pasukan Moskow yang membesar, serta tekanan ekonomi Rusia ketika perhatian Amerika Serikat teralih pada konflik dengan Iran.
"Bagaimana mungkin Uni Eropa atau negara-negara anggota UE dapat bertindak sebagai mediator ketika mereka secara langsung membantu negara yang sedang terlibat dalam konflik bersenjata dengan kami?" kata Vladimir Putin, Presiden Rusia.
Putin menambahkan bahwa mediasi membutuhkan kenetralan dari pihak yang terlibat. Menurutnya, negara-negara Eropa seharusnya membujuk otoritas Kyiv untuk menyetujui kompromi, bukan mengirimkan pasokan senjata.
"Bagaimana mereka bisa menjadi mediator? Mediasi mengisyaratkan netralitas." ujar Vladimir Putin, Presiden Rusia.
Rusia menuntut agar Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donetsk di Ukraina timur, termasuk area yang belum dikuasai pasukannya sejak 2014. Di sisi lain, Ukraina menolak tuntutan itu dan mengusulkan penghentian perang di sepanjang garis depan yang ada saat ini.
"mereka tetap harus orang-orang yang dapat dipercaya." kata Vladimir Putin, Presiden Rusia.
Sebagai kandidat perwakilan Eropa yang tepercaya, Putin mengusulkan nama mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder. Pemimpin Rusia tersebut memuji Schroeder sebagai seorang negarawan yang memiliki pendirian kuat dan keberanian.
"Dia bukan teman Putin," kata Vladimir Putin, Presiden Rusia.
"Dia adalah seorang negarawan Jerman — dan salah satu yang terbaik menurut saya karena dia memiliki pendirian sendiri dan keberanian untuk mempertahankannya." ujar Vladimir Putin, Presiden Rusia.
Sementara itu, pihak Ukraina mendesak adanya proses dialog yang lebih inklusif dan transparan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy turut merespons situasi ini dengan mengirimkan surat terbuka pada Kamis malam.
"I mengusulkan untuk menetapkan tanggal yang jelas untuk pertemuan tersebut," kata Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.
Zelenskyy menegaskan bahwa urusan keamanan Ukraina dan Eropa tidak bisa diputuskan begitu saja di Anchorage tanpa keterlibatan pihak-pihak terkait. Ia menyatakan bahwa Eropa dan Amerika Serikat harus menjadi bagian dari arsitektur keamanan baru demi menghentikan konflik yang telah memasuki tahun kelima ini.
"Kami mendengar bahwa Anda dijanjikan di Alaska penyelesaian beberapa isu terkait Ukraina dan Eropa. Namun, Anda dapat melihat sendiri bahwa isu-isu Ukraina dan Eropa tidak diputuskan di Anchorage." ujar Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.
"Inilah yang dapat membantu membentuk arsitektur keamanan baru untuk wilayah kami," kata Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.
Di tengah dinamika diplomasi tersebut, situasi di medan tempur tetap memanas dengan intensifikasi serangan udara. Putin menegaskan pasukan Rusia terus bergerak maju dan mengancam akan meningkatkan serangan menggunakan rudal hipersonik Oreshnik di kawasan urban.
"Kami menghitung segalanya hingga milimeter. Ini penting bagi kami untuk mengambil keputusan di masa depan mengenai penggunaan penuh rudal Oreshnik untuk tujuan yang dimaksudkan, termasuk di kawasan urban," kata Vladimir Putin, Presiden Rusia.