DPR AS Batasi Wewenang Perang Donald Trump Terhadap Iran
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat menyetujui resolusi pembatasan kewenangan Presiden Donald Trump untuk melanjutkan perang dengan Iran tanpa persetujuan Kongres dalam pemungutan suara pada Rabu (3/6) waktu setempat. Langkah hukum ini diajukan oleh Partai Demokrat demi mengendalikan aksi militer sepihak eksekutif.
Keputusan tersebut diambil melalui voting dengan hasil akhir 215 suara setuju berbanding 208 suara menolak, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laporan Reuters pada Kamis (4/6/2026). Empat politisi Partai Republik membelot dari garis partai demi mendukung resolusi bipartisan yang tergolong langka ini.
Meskipun demikian, pemungutan suara ini dinilai bersifat simbolis karena harus melewati Senat yang saat ini masih dikuasai oleh Partai Republik. Donald Trump juga memiliki hak veto untuk membatalkan aturan tersebut, yang hanya bisa dianulir oleh dukungan dua pertiga suara dari kedua kamar Kongres.
Langkah legislatif ini merupakan upaya keempat dari DPR AS untuk membatasi wewenang perang presiden sejak konflik bersenjata dengan Iran pecah pada Februari lalu. Tiga resolusi yang diajukan sebelumnya selalu kandas di tingkat DPR dengan selisih suara yang kian menipis.
Hingga kini, kesepakatan damai untuk menghentikan pertempuran belum tercapai antara pihak Amerika Serikat dan Iran. Di tengah situasi tersebut, Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengadakan pertemuan langsung dengan pimpinan tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
"Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan podcast 'Pod Force One' milik New York Post yang dilansir AFP pada Rabu (3/6/2026). Hubungan kedua negara memanas setelah serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan melukai putranya, Mojtaba Khamenei.
Pihak intelijen Amerika Serikat mengonfirmasi telah memperoleh data medis terbaru mengenai kondisi terkini dari penerus kepemimpinan Iran tersebut. Trump menegaskan bahwa pemimpin tertinggi Iran itu dilaporkan mengalami cedera yang sangat serius akibat serangan udara tersebut.
"Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.