Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS pada Kamis Pagi

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah hingga menembus level psikologis baru Rp18.000/US$ pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi, menjadi rekor terendah sepanjang sejarah yang dipicu oleh sentimen eksternal dan kondisi dalam negeri.

Mata uang Indonesia langsung melemah 0,06 persen ke posisi Rp17.960 per dolar AS saat pembukaan pasar, dilansir dari Bloomberg Technoz. Penurunan berlanjut cepat hingga menyentuh Rp17.995/US$ pada pukul 09.04 WIB, sebelum akhirnya melewati batas psikologis di level Rp18.000/US$ tepat pada pukul 09.16 WIB dan mencapai Rp18.045/US$ pada siang hari pukul 12.30 WIB.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menjelaskan bahwa kemerosotan ini terjadi akibat perpaduan faktor fundamental ekonomi serta sentimen yang memengaruhi keputusan para pelaku pasar keuangan.

Faktor penekan mencakup kebijakan baru yang tidak terprediksi, potensi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve akibat inflasi tinggi di AS, isu penurunan peringkat utang oleh S&P Global Ratings, hingga rebalancing saham MSCI dan FTSE yang memicu aliran modal asing keluar dari pasar saham Indonesia.

Sentimen negatif investor asing juga diperparah oleh kasus dugaan korupsi yang melibatkan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN).

"Terakhir, adanya rebalancing saham MSCI dan FTSE yang menimbulkan aliran modal asing keluar (net sell) dari pasar saham Indonesia," ujar Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina.

Kasus hukum yang menimpa lembaga baru tersebut dinilai memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap proyek strategis nasional lainnya.

"Pasar jadi memperkirakan hal yang sama juga terjadi di proyek-proyek strategis lainnya," tutur Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina.

Pemerintah disarankan untuk memangkas belanja yang tidak mendesak demi memperbaiki tata kelola APBN, membenahi iklim investasi, menghentikan kriminalisasi hukum terhadap petinggi institusi, serta memenuhi poin-poin perhatian MSCI dan FTSE.

"Tentunya, komunikasi juga harus diperbaiki," tegas Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina.

Koordinasi dan komunikasi antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ikut disorot karena keretakan hubungan kedua pihak dianggap memengaruhi persepsi pasar.

"Pasar juga melihat hubungan antara menteri keuangan dan gubernur BI yang tidak solid sebagai faktor penting. Ini jadi bahan pembicaraan keseharian di kalangan pelaku pasar," sebut Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina.

Kementerian Keuangan diminta fokus memperbaiki postur fiskal, sedangkan Bank Indonesia disarankan menerbitkan lebih banyak Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan meningkatkan imbal hasilnya.

Di sisi lain, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Muhammad Riefky Hasan menilai penyempitan ruang fiskal serta kebijakan baru pemerintah membuat tingkat kepercayaan pelaku pasar merosot.

"Ruang fiskal yang terus menyempit dan berbagai kebijakan baru tidak membuat investor confident, seperti pembentukan DSI (PT Danantara Sumberdaya Indonesia)," kata Teuku Muhammad Riefky Hasan, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI.

Pemerintah pusat disarankan segera membenahi struktur anggaran dan memprioritaskan program yang berdampak nyata pada pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Ekonom INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan pemerintah untuk menjaga kedisiplinan fiskal, mengarahkan anggaran ke aktivitas produktif, serta menghindari pernyataan ceroboh di depan publik dan investor.

Bank Indonesia juga didorong untuk mengambil langkah pengetatan moneter dengan menaikkan BI Rate ke level yang lebih tinggi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author