Yusril Ihza Mahendra Pertahankan Disertasi Doktor Filsafat di Universitas Indonesia

Share

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, berhasil mempertahankan disertasi doktornya dalam sidang terbuka di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada Kamis (2/7), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Yusril menyelesaikan program doktor di bidang filsafat ini setelah menempuh studi selama lima tahun dengan mengangkat pemikiran Pahlawan Nasional Mohammad Natsir.

"Disertasi itu saya tulis cukup lama. Saya mengikuti program doktor di bidang filsafat ini selama 5 tahun dan baru menyelesaikannya pada hari ini," ujar Yusril Ihza Mahendra.

Yusril mengungkapkan bahwa kesibukannya dalam berbagai aktivitas sempat membuat proses penulisan tugas akhirnya ini menjadi agak terhambat.

"Kuliah fokus, menulisnya agak terbengkalai karena sibuk, banyak-banyak kegiatan," kelakar Yusril Ihza Mahendra.

Di samping jadwal yang padat, menteri koordinator ini mengakui bahwa mendalami ilmu filsafat dan menyusun disertasi tersebut memberikan tantangan tersendiri.

"Saya merasa bersyukur ya di usia yang sudah tidak muda lagi dengan-dengan kesibukan yang luar biasa banyaknya, saya masih menyempatkan diri untuk melakukan studi di bidang filsafat yang agak rumit dan jelimet sebenarnya, menulis disertasi di bidang filsafat itu," kata Yusril Ihza Mahendra.

Karya ilmiahnya tersebut diberi judul "Islam, Negara dan Demokrasi Dalam Pemikiran Mohammad Natsir: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial".

"Dan kalau kita bicara mengenai Islam dalam negara, maka tokoh yang paling tepat untuk diangkat pemikirannya itu adalah Muhammad Natsir," tutur Yusril Ihza Mahendra.

Ia memaparkan bahwa Mohammad Natsir merupakan tokoh yang merumuskan gagasan Islam sebagai fondasi negara serta memperkenalkan konsep teistik demokrasi.

"Natsir bukan orang yang menolak Pancasila. Dia menerima Pancasila itu sebagai sebuah kompromi, tapi sila Ketuhanan Yang Maha Esa menurut pendapatnya harus ditaksirkan dengan mengaitkannya dengan ajaran-ajaran agama Islam khususnya dan agama-agama lain di Indonesia," imbuh Yusril Ihza Mahendra.

Melalui disertasinya, Yusril mengkaji lebih dalam argumen-argumen filosofis dan nilai keyakinan keagamaan yang mendasari pemikiran teistik demokrasi tersebut.

"Kuatnya argumen mengatakan Tuhan itu ada dengan Tuhan itu tidak ada. Tapi itu persoalan filsafat. Persoalan agama lebih daripada persoalan filsafat karena menyangkut keyakinan yang terpendam dalam hati seluruh manusia.

Apa yang dimaksud Natsir dengan teistik demokrasi? Itulah yang diungkapkan dalam disertasi ini," jelas Yusril Ihza Mahendra.

Sebagai bentuk penghormatan dan refleksi terhadap sosok yang menginspirasi riset akademisnya, Yusril juga sempat melakukan ziarah pribadi ke makam Mohammad Natsir di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Rabu (24/6).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author