Yield SUN Tenor 1 Tahun Melonjak Tembus 7 Persen

Share

Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) untuk tenor 1 tahun mengalami lonjakan signifikan hingga menembus angka 7,09 persen pada Kamis, 4 Juni 2026. Lonjakan yang dilansir dari Bloomberg Technoz ini melampaui yield tenor 10 tahun yang berada di kisaran 6,69 persen dan mencerminkan terjadinya fenomena kurva imbal hasil terbalik atau inverted yield curve.

Situasi pergerakan pasar obligasi pemerintah ini memicu perhatian dari pelaku ekonomi makro dalam negeri. Lonjakan pada tenor pendek tersebut menandakan adanya dinamika yang tidak biasa di pasar keuangan domestik saat ini.

“Dalam kondisi normal, imbal hasil tenor panjang biasanya lebih tinggi daripada tenor pendek karena investor meminta kompensasi waktu dan risiko yang lebih besar. Jika kurva menjadi terbalik, artinya pasar lebih khawatir terhadap risiko jangka pendek, terutama kebutuhan likuiditas, arah BI Rate, risiko arus modal keluar, dan kebutuhan pemerintah menerbitkan SBN di tengah pasar yang rapuh,” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.

Kondisi pasar obligasi di dalam negeri ini memiliki karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan situasi finansial di luar negeri. Faktor-faktor domestik turut mempengaruhi pergerakan instrumen keuangan ini secara spesifik.

“Penggerak utama yield SBN 10 tahun dipetakan berasal dari UST 10 tahun, BI Rate, USD/IDR, CDS [Credit Default Swap], faktor fiskal dan suplai SBN, serta arus investor asing; jadi ketika rupiah, CDS, dan fiskal memburuk bersamaan, tekanan ke pasar SUN menjadi sangat wajar,” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.

Indikator risiko investasi Indonesia atau Credit Default Swap (CDS) juga mencatat pergerakan tertentu yang menjadi perhatian pengamat ekonomi. Per tanggal 3 Juni 2026, angka CDS Indonesia tercatat berada pada posisi 88,8 basis poin.

“Penyebabnya bukan hanya rupiah melemah, tetapi juga kekhawatiran terhadap fiskal, risiko penurunan peringkat utang, penjualan saham, ketidakpastian kebijakan, dan persepsi bahwa respons kebijakan belum cukup menyentuh akar masalah,” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.

Lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch dan Moody's sebelumnya telah melakukan penyesuaian terhadap prospek atau outlook Indonesia menjadi negatif. Perubahan ini didorong oleh faktor ketidakpastian kebijakan dan risiko terhadap bantalan eksternal, di mana secara historis pada kuartal II-2026 CDS Indonesia sempat menyentuh level 104,48 basis poin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author