by

Waspada Gerakan Radikal Kini Lebih Berani

JAKARTA – Gerakan dan langkah aktif Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri makin masif. Ini dibuktikan dengan penangkapan enam terduga teroris anggota kelompok Villa Mutiara yang terlibat aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar akhir Maret lalu.

Enam terduga teroris kelompok Villa Mutiara Makassar yang diamankan memeliki grup whatsapp (WA) dengan nama Batalyon Iman ntuk berkomunikasi dan mempraktekkan cara-cara melakukan teror.

“Apresiasi atas kinerja Densus 88 yang sigap dan terukur dalam mengamankan terduga teroris. Komunikasi dalam grup whatsapp terkait rencana-rencana jahat dengan mempraktekkan bagaimana membuat atau merakit bahan peledak menjadi bukti, mereka tak segan-segan memanfaatkan semua media penyampai pesan,” papar Azis Syamsuddin, Rabu (14/4/2021).

Baca Juga  Hasil Harta Rampasan dan Uang Tersangka Jiwasraya Kemana?

Ditambahkannya, setelah muncul warning dari Presiden Joko Widodo, khususnya usai kejadian bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Tim Densus 88 Anti Teror Polri terus melakukan kegiatan dan tindakan kepolisian dalam rangka mencegah aksi-aksi terorisme di Tanah Air.

“Kami berharap Tim Desus 88 Anti Teror Polri terus melakukan penelusurah usai menangkap 20 orang terduga teroris dalam operasi pencegahan dan penindakan terorisme pada Januari 2021. Ini penting, untuk menelusuri kembali jaringan yang terpecah di berbagai daerah,” jelas Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.

Azis Syamsuddin juga menyambut baik, dengan rencana 34 narapidana tindak pidana terorisme yang mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Kamis (15/4) di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor.

Baca Juga  Azis Syamsuddin: Ada 17 Produk Seharusnya Dibuat di Dalam Negeri

Pengucapan sumpah setia kepada NKRI merupakan salah syarat bagi narapidana tindak pidana terorisme apabila dikemudian hari mengajukan pembebasan bersyarat, menjelang bebas dan program lainnya.

“Pengucapan sumpah setia pada NKRI tersebut merupakan salah satu bagian dari program deradikalisasi oleh pemerintah terhadap narapidana terorisme. Setelah mengucapkan ikrar setia pada NKRI diharapkan tekad dan semangat mereka kembali terbangun pada bangsa dan negara,” jelas Azis.

Secara khusus tujuannya yaitu berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945, secara tulus setia kepada NKRI dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan meningkatkan kesadaran bela negara untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca Juga  Azis Syamsuddin Minta Mitigasi dan Tekhnologi Peringatan Dini Bencana Mulai Diterapkan

Pengucapan ikrar setia kepada NKRI oleh narapidana terorisme tidak bisa dipaksakan. Sebab, kesadaran itu harus muncul dari diri mereka sendiri. Bagi narapidana teroris yang belum atau tidak bersedia mengucapkan ikrar setia kepada NKRI pemerintah juga tidak bisa memasarkannya.

“Jelas tidak bisa dipaksa mereka harus NKRI. Sebab mereka sendiri yang harus memahami integritas dan jiwa mereka untuk NKRI. Namun, untuk mencapai agar narapidana teroris kembali memaknai dan mencintai Tanah Air sejumlah upaya dilakukan di antaranya pemahaman, pembinaan kepribadian hingga bela negara. Ini bagian dari pembinaan deradikalisasi,” papar Azis Syamsuddin. (as)

Baca Juga