Ribuan Warga Serbu Gunungan Hasil Bumi di Grebeg Sura Baturraden
Ribuan warga memadati acara Grebeg Sura di Baturraden untuk menyaksikan prosesi perebutan gunungan hasil bumi setinggi lima meter. Dilansir dari Detik Travel, gunungan tersebut langsung habis diserbu warga yang ingin membawa pulang hasil bumi sebagai simbol berkah.
Masyarakat sudah memenuhi sepanjang jalur arak-arakan sejak pukul 08.00 WIB pada Minggu (12/7/2026). Gunungan hasil bumi setinggi kurang lebih 5 meter tersebut kemudian diarak dari kawasan wana wisata sejauh 1 kilometer.
Rangkaian prosesi adat dimulai saat rombongan memasuki area lokawisata. Sebelum masyarakat melakukan perebutan gunungan, seluruh rombongan terlebih dahulu melaksanakan ziarah ke area petilasan bawah.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan melarung sesaji yang dibawa di Sungai Gumiwang di dalam area loka wisata. Sesaat setelah doa bersama selesai dipanjatkan, masyarakat langsung bergerak maju untuk berebut gunungan hasil bumi.
Gunungan yang berisi gabah serta bermacam sayuran tersebut habis dalam waktu kurang dari 5 menit. Beberapa warga nekat menaiki struktur gunungan, bahkan ada yang terjatuh hingga terinjak di tengah kerumunan.
Meskipun harus berdesakan, masyarakat yang hadir tetap menunjukkan raut wajah bahagia setelah berhasil memperoleh hasil bumi. Salah seorang warga Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Utami, mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi tahunan ini.
"Seru tadi rebutan gunungannya. Saya dapat kacang panjang, pare sama daun bawang. Nanti mau dimasak. Ini baru pertama kali datang ke acara Grebeg Sura," kata Utami.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Praptini, seorang warga dari Desa Pabuwaran. Ia tetap merasa senang bisa berpartisipasi karena percaya bahwa hasil bumi dari gunungan tersebut dapat mendatangkan berkah tersendiri.
"Ini nanti buat dimasak. Tadi sempat terinjak-injak waktu rebutan gunungan, tapi tidak apa-apa. Demi dapat hasil bumi ini, ngalap berkah," ujar Praptini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas, Junaidi, menjelaskan bahwa festival budaya ini menjadi strategi pemerintah daerah untuk mendongkrak angka kunjungan ke Lokawisata Baturraden.
Peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke wilayah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif secara langsung, baik bagi pendapatan pemerintah daerah maupun bagi sektor ekonomi masyarakat setempat.
Selain memberikan kontribusi terhadap roda ekonomi, Junaidi menambahkan bahwa agenda tahunan ini berfungsi sebagai wadah efektif untuk melestarikan kebudayaan dan seni lokal khas Banyumas.
Berbagai pertunjukan kesenian tradisional mulai dari tari lengger hingga kesenian barongsai ikut ditampilkan. Acara ini menjadi hiburan bagi masyarakat sekaligus menjaga eksistensi budaya daerah agar tetap hidup.
"Ini adalah seni budaya yang harus terus diuri-uri. Tugas pemerintah memberikan fasilitasi agar seni budaya yang berkembang di Banyumas tetap hidup dan dilestarikan," ujar Junaidi.
Grebeg Sura ini sekaligus menjadi momentum penting untuk mempererat rasa kebersamaan. Seluruh desa yang berada di sekitar kawasan Baturraden turut terlibat aktif dalam menyiapkan gunungan hasil bumi.
Keterlibatan seluruh elemen desa tersebut menjadi simbol rasa syukur komunal atas hasil panen. Pemerintah berharap kegiatan ini memperkuat sinergi masyarakat dalam mengembangkan potensi pariwisata daerah.
"Ini bentuk gotong royong bersama. Gunungan menjadi simbol rasa syukur kepada Allah atas hasil bumi yang dihasilkan masyarakat sekitar Baturraden. Harapannya masyarakat semakin guyub, rukun, bersinergi dan berkolaborasi mengembangkan pariwisata," kata Junaidi.