Dokter Imbau Wanita Endometriosis Tak Menjadikan Kehamilan Rencana Terapi

Share

Saran agar wanita penderita endometriosis segera hamil guna meredakan gejala penyakitnya ternyata masih marak diberikan oleh sebagian tenaga medis. Padahal, kehamilan secara medis bukanlah solusi atau obat untuk menyembuhkan kondisi tersebut. Hasil riset Barriers and Facilitators of Endometriosis Care di Aotearoa New Zealand mengutarakan kenyataan ini.

Temuan dari survei terhadap lebih dari 600 pasien tersebut diprakarsai oleh Endometriosis New Zealand bersama University of Canterbury, dilansir dari HaiBunda. Studi tersebut melaporkan bahwa sekitar sepertiga dari total responden mengaku pernah menerima nasihat medis agar hamil demi mengurangi rasa sakit akibat endometriosis. Di sisi lain, minimnya pemahaman mengenai penyakit ini membuat diagnosis pasien tertunda hingga 11 tahun.

Kepala Eksekutif Endometriosis New Zealand Tanya Cooke menegaskan bahwa kehamilan bukanlah bentuk terapi penyembuhan endometriosis. Pilihan untuk memiliki momongan sepenuhnya merupakan keputusan pribadi yang tidak sepatutnya dijadikan metode penanganan nyeri.

"Dan tidak ada tenaga medis yang seharusnya menyarankan seseorang untuk hamil semata-mata demi meredakan gejala endometriosis mereka," kata Cooke. Munculnya anjuran agar penderita endometriosis segera hamil pada masa lalu tidak lepas dari mekanisme biologis tubuh. Endometriosis terjadi saat jaringan yang serupa dengan lapisan dalam rahim tumbuh di luar organ rahim.

Pertumbuhan jaringan di luar tempatnya ini memicu peradangan, timbulnya rasa nyeri, hingga perlengketan pada area panggul. Saat seorang wanita mengandung, perubahan hormon secara otomatis menghentikan siklus haid untuk sementara waktu. Pemberhentian siklus bulanan ini memang memicu penurunan gejala nyeri pada sebagian wanita hamil. Namun, penurunan rasa sakit tersebut tidak menandakan penyakit endometriosis telah sembuh sepenuhnya dari tubuh pasien.

Berdasarkan penjelasan American College of Obstetricians and Gynergologists (ACOG), endometriosis tergolong sebagai penyakit kronis. Penanganannya dapat dilakukan melalui prosedur operasi, pemberian obat-obatan, atau penggabungan kedua metode medis tersebut.

Kehamilan Tidak Menghilangkan Jaringan Endometriosis

Laporan riset dari Selandia Baru menggarisbawahi bahwa masa kehamilan terbukti tidak mengurangi ukuran maupun jumlah lesi endometriosis pada organ reproduksi. Efek perbaikan gejala pun tidak dirasakan oleh semua pasien.

Data survei menunjukkan hanya 51,3 persen pasien yang mencoba hamil melaporkan adanya penurunan gejala. Ini berarti hampir setengah dari responden tidak merasakan perbaikan apa pun pada tubuh mereka. Anjuran untuk segera hamil berisiko memberikan beban emosional yang berat, terutama jika disampaikan kepada pasien yang masih sangat muda atau belum berencana memiliki anak.

Apalagi gangguan ini sering kali berdampak pada tingkat kesuburan pasien. Meskipun kerap memicu peradangan serta perlengketan di ovarium dan saluran telur yang mengganggu pembuahan, penderita endometriosis tidak serta-merta dipastikan mengalami infertilitas total.

Bagi pasien yang memang merencanakan momongan, konsultasi bersama dokter ahli sangat disarankan. Penanganan akan disesuaikan berdasarkan usia, tingkat keparahan penyakit, cadangan ovarium, serta riwayat medis pasien.

Bagi wanita yang belum ingin berencana hamil, pengobatan endometriosis tetap dapat dijalankan. Opsi penanganan medis mencakup konsumsi obat pereda nyeri, terapi hormon, hingga tindakan bedah medis.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author