Wamendiktisaintek Dorong Penguatan Data Hadapi Era Kecerdasan Buatan

Share

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mendorong penguatan kekayaan data nasional agar Indonesia mampu bersaing pada era kecerdasan buatan (AI). Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Sino-Indonesian Next Generation Dialogue (SINGD) 2026 di Tsinghua Southeast Asia Center, Sabtu (11/7/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laman Kemdiktisaintek pada Kamis (16/7/2026).

Generasi muda diimbau untuk melihat ekspansi teknologi AI ini sebagai sebuah peluang strategis yang bernilai positif. Kendati demikian, pemanfaatan peluang tersebut memerlukan kalkulasi matang melalui perumusan strategi yang selaras dengan karakteristik domestik.

"Prioritas Indonesia dan peluang Indonesia adalah hal yang sama. Jika kita berpikir tentang prioritas, kita harus berpikir tentang kesempatan," ujar Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pengembangan sistem kecerdasan buatan ditopang oleh tiga elemen krusial, meliputi algoritma, daya komputasi (computing power), dan ketersediaan data. Di antara ketiga pilar utama tersebut, sektor data dinilai menjadi bidang dengan potensi keuntungan terbesar bagi Indonesia.

"Data adalah oksigen bagi AI. Jika Anda tidak memiliki data, tidak peduli seberapa bagus algoritma Anda atau seberapa kuat computing power Anda, Anda tidak akan mendapatkan model AI seperti yang dunia miliki hari ini," kata Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kelimpahan data dari beragam sektor di Indonesia diyakini dapat dikonversi menjadi aset strategis guna menstimulasi inovasi teknologi global.

"Saya pikir itulah kekuatan Indonesia yang harus kita gunakan, dan kita memiliki kesempatan untuk menjadi pemain besar," tambah Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Daya saing jangka panjang Indonesia dalam ekosistem AI juga sangat bertumpu pada keberlanjutan investasi di sektor pendidikan tinggi, pengembangan talenta, serta riset. Berdasarkan rekam jejak akademisnya di Amerika Serikat dan China, penguatan ekosistem sains memerlukan komitmen yang berkelanjutan agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen, melainkan ikut berkontribusi sebagai pengembang teknologi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author