oleh

Wabah Virus Corona Naik Tajam, Kesadaran Publik Makin Jomplang

JAKARTA – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengatakan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia dalam sepekan terakhir dipicu oleh tingkat penularan yang masih tinggi dan pencatatan data kasus yang belum terintegrasi dengan baik.

Juru bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menuturkan tingkat penularan Covid-19 yang tinggi juga dipicu oleh libur panjang. Satgas Covid-19 memantau ada pola yang mengkhawatirkan setiap kali libur panjang.

Indonesia setidaknya telah melalui tiga kali libur panjang selama pandemi, terakhir pada 28 Oktober-1 November 2020. “Kenaikannya antara 50 persen sampai 100 persen. Selalu polanya seperti itu,” kata Wiku dalam dialog virtual pada Jumat.

Menurut Wiku, kenaikan kasus terlihat dalam dua pekan setelah libur panjang dan rata-rata berlangsung dalam satu hingga dua pekan berikutnya.

Baca Juga  Angka Kematian Covid-19 Meningkat Satu Minggu Terakhir

Dia melanjutkan, ada dua hal yang memengaruhi tingginya angka kasus yakni jumlah tes yang semakin meningkat dan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan yang justru menurun.

Satgas Covid-19 melaporkan bahwa tingkat kepatuhan menggunakan masker menurun menjadi 59,32 persen pada akhir November 2020. Sementara itu, kepatuhan menjaga jarak menurun menjadi 43,46 persen.

Padahal untuk mengendalikan pandemi, Wiku menuturkan setidaknya 75 persen masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan. “Ternyata setiap selesai liburan panjang, perubahan prilaku untuk pakai masker dan jaga jarak juga turun. Kalau terus seperti ini, kasusnya akan tinggi,” kata dia.

Wiku memahami bahwa masyarakat jenuh dengan situasi pandemi, namun dia mengingatkan bahwa kepatuhan terhadap protokol kesehatan dapat membantu meringankan beban tenaga medis. “Sekarang ini berbahaya sekali untuk tenaga kesehatan, karena masyarakatnya tidak peduli,” kata Wiku.

Baca Juga  Cerita Relawan Gagal Dapatkan Vaksin, Berharap Uji Klinis Sukses

Tingkat hunian tempat tidur isolasi dan ruang ICU di sejumlah daerah juga meningkat dalam beberapa waktu terakhir sebagai dampak peningkatan kasus.

Jakarta mencatat 79 persen tempat tidur isolasi di 98 rumah sakit rujukan telah penuh hingga 29 November 2020. Sedangkan tempat tidur di ruang ICU telah terisi hingga 74 persen.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan tingkat keterisian rumah sakit telah mencapai 83 persen. Dia menyebut situasi ini merupakan kenaikan kasus yang tertinggi sepanjang sejarah Covid-19 di Bogor. “Selama ini [bed occupancy rate] bisa kita tekan di bawah 60 persen, sekarang sudah 83 persen,” kata Bima.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Bogor tengah menyiapkan rumah sakit darurat dan hotel untuk tempat isolasi mandiri bagi pasien tanpa gejala.

Baca Juga  “COVID-19 JOURNEY OF GLOBAL CITIZEN: WHERE ARE WE NOW?”

Data belum sinkron

Satu hal lainnya yang menyebabkan melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia ialah sistem pelaporan yang belum real time.

Wiku mengatakan sejumlah wilayah seperti Papua kesulitan melaporkan data kasus baru secara real time. Akibatnya pada Kamis, Papua melaporkan 1.755 kasus dalam sehari.

Padahal menurut Wiku, angka tersebut merupakan data kumulatif sejak 19 November 2020.

“Papua sejak 19 November baru kemarin memasukkan data sehingga jumlahnya 1.700 lebih, selama ini 0,” kata Wiku.

Indonesia sejauh ini telah melaporkan 563.680 kasus Covid-19, dengan pasien sembuh sebanyak 466.178 orang dan kasus meninggal sebanyak 17.479 orang. (oke/alx)

Baca Juga