Vihara Dharma Bhakti Menjadi Penanda Kawasan Tua di Jakarta
Bangunan bersejarah Vihara Dharma Bhakti di kawasan Pecinan Pancoran Glodok, Jakarta Barat, menjadi penanda perkembangan kawasan tua ibu kota sejak abad ke-17. Rumah ibadah yang dikenal sebagai Kelenteng Kim Tek Ie ini didirikan pada tahun 1650, seperti dilansir dari Detik Travel pada Kamis (25/6/2026).
Keberadaan vihara tertua di Jakarta tersebut mencerminkan bagaimana wilayah Glodok telah berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat selama ratusan tahun. Lokasi bangunan keagamaan ini umumnya tumbuh subur di sekitar titik temu perdagangan yang berkembang pada masanya.
Founder SANA Kenal Kota, Abimantra Pradhana, menjelaskan struktur linimasa pembangunan rumah ibadah ini yang berdekatan dengan era awal pembangunan benteng Batavia oleh pemerintah kolonial Belanda.
"Ini vihara tertua di Jakarta, tertua dibangun di tahun 1650. Jadi tahun 1619 benteng Batavia dibangun dan mungkin sekitar 50 tahun sampai benar-benar terbentuk struktur. Nah tahun 1650 vihara ini ada dan namanya Kim Tek Le atau Vihara Dharma Bhakti," kata Abi saat memandu walking tour di kawasan tersebut, Kamis (25/6/2026).
Abi menambahkan bahwa keberadaan rumah ibadah etnis Tionghoa ini dapat digunakan masyarakat untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah lama di Jakarta. Tempat-tempat tersebut biasanya berada dekat dengan fasilitas transportasi yang menjadi titik lebur komunitas.
"Nah biasanya di setiap area di Jakarta itu kalau kita bagaimana mengenali area tertua ada viharanya. Kenapa? Biasanya itu di dekat stasiun, dekat stasiun ada titik temu atau jadi melting pot," kata Abi.
Menurut Abi, aktivitas niaga yang masif oleh Komunitas Tionghoa memicu kebutuhan ruang ibadah yang tinggi. Pola ini terlihat di beberapa kawasan tua lain di Jakarta yang juga memiliki vihara bersejarah.
"Nah aktivitas perdagangan itu biasanya dilakukan oleh Komunitas Tionghoa ya dan Komunitas Tionghoa butuh beribadah. That's why misalnya di Glodok udah pasti ada vihara, di Palmerah ada, di Tanah Abang ada, di area Senen Jatinegara pun ada," kata dia.
Berdasarkan catatan sejarah, masih banyak warga yang belum menyadari signifikansi historis dari bangunan yang telah berdiri hampir empat abad ini. Padahal, Glodok memegang peranan krusial dalam lini masa pertumbuhan kota Jakarta.
"Jadi mungkin kita nggak sadar setiap hari tahu Glodok atau mungkin pernah apa berseliweran dan beraktivitas di sini, tapi nggak tahu kalau ada bangunan yang usianya 400 tahun," ujar dia.
Berdasarkan data Wonderful Indonesia, rumah ibadah ini awalnya didirikan oleh Letnan China Kwee Hoen pada 1950 dengan nama Koan Im Teng untuk mendedikasikannya kepada Dewi Kwan Im. Kompleks ini sempat hangus terbakar pada tragedi Geger Pecinan tahun 1740, sebelum akhirnya dipugar kembali oleh Kapten Oei Tjhie pada 1755 dengan nama Jin De Yuan atau Kim Tek Ie yang berarti kebijaksanaan emas.