Universitas Ghent Skors Akademisi Nathan Cofnas Usai Tuduhan Plagiarisme
Universitas Ghent di Belgia menskors peneliti pascadoktoral Nathan Cofnas sebagai langkah pencegahan menyusul penyelidikan disiplin awal terkait tuduhan plagiarisme yang ia layangkan terhadap mendiang profesor Universitas Cambridge, Jason Arday. Langkah tegas pihak kampus tersebut diambil setelah Cofnas mengaku sedang diselidiki oleh Universitas Ghent atas tuduhan melakukan diskriminasi terhadap Arday sebelum sang profesor meninggal dunia pada 14 Agustus 2026. Rektor Universitas Ghent Petra De Sutter dan Wakil Rektor Herwig Reynaert memberikan tindakan disiplin resmi lantaran menanggapi pernyataan publik Cofnas secara serius demi menjaga integritas institusi.
"Kami menganggap sangat serius pernyataan publik terbaru yang dibuat oleh seorang peneliti pascadoktoral di Universitas Ghent mengenai masalah ini, dan telah mengambil tindakan yang tepat," kata Rector Petra De Sutter dan Vice-rector Herwig Reynaert, pejabat Universitas Ghent.
Pihak kepemimpinan universitas menekankan bahwa kebebasan akademik yang dijunjung tinggi di lingkungan kampus tetap memiliki batasan hukum serta etika yang wajib dipatuhi oleh seluruh civitas akademika. "Kami menyatukan kepentingan besar pada kebebasan akademik dan debat akademik yang terbuka, bahkan ketika pandangan bersikap kontroversial. Namun, kebebasan itu tidak tanpa batas," kata Rector Petra De Sutter dan Vice-rector Herwig Reynaert, pejabat Universitas Ghent.
Ghent University juga menambahkan bahwa kebebasan ilmiah harus senantiasa berjalan berdampingan dengan rasa tanggung jawab guna melindungi hak-hak individu lain dari tindakan diskriminatif. "Itu berjalan seiring dengan tanggung jawab dan dapat dibatasi untuk melindungi hak-hak orang lain," kata Rector Petra De Sutter dan Vice-rector Herwig Reynaert, pejabat Universitas Ghent.
Manajemen kampus berharap wafatnya Arday dapat menjadi momen evaluasi bersama mengenai tata cara berinteraksi di dalam maupun di luar dunia akademis, terutama saat seseorang menjadi sorotan publik. "Mendorong refleksi dan pembelajaran mengenai cara kita memperlakukan satu sama lain baik di dalam maupun di luar dunia akademik, khususnya ketika orang-orang menjadi subjek kontroversi publik," kata Rector Petra De Sutter dan Vice-rector Herwig Reynaert, pejabat Universitas Ghent. Sebelumnya, tuduhan plagiarisme yang dilontarkan Cofnas memicu perdebatan sengit beberapa minggu sebelum Arday, yang merupakan profesor sosiologi pendidikan termuda di Cambridge pada usia 41 tahun, ditemukan meninggal dunia di London selatan usai mengundurkan diri.
Cofnas mengklaim telah menguji karya ilmiah Arday menggunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme dan menemukan sejumlah dugaan penyalinan paragraf secara langsung.
"Banyak bagian diangkat dengan pengeditan minimal, terkadang mempertahankan kesalahan penyuntingan dari sumber aslinya," kata Nathan Cofnas, peneliti pascadoktoral Universitas Ghent. Sebelum insiden ini, posisi Cofnas di sebuah perguruan tinggi Cambridge telah dihentikan pada tahun 2024 akibat rekam jejak pandangannya terkait ras dan meritokrasi yang menuai kecaman luas. Sementara itu, tuduhan terhadap Arday juga mencakup klaim pencapaian rekor lari maraton untuk amal yang dipertanyakan oleh sejumlah pihak sebelum ia memutuskan mundur dari jabatannya.
Dalam surat pengunduran dirinya pada 5 Agustus 2026, Arday sempat mengungkapkan tekanan mental yang dialaminya akibat sorotan publik yang terus-menerus mengintimidasi kehidupannya.
"Saya tidak lagi ingin merasa seolah-olah hidup di bawah sorotan yang konstan, di mana setiap aspek kehidupan saya menjadi subjek pemeriksaan dan penilaian publik," kata Jason Arday, mantan Profesor Universitas Cambridge. Arday juga menegaskan dalam pesan terakhirnya bahwa pengunduran diri tersebut bukanlah akhir dari dedikasi akademis yang selama ini ia jalankan.
"Ini bukanlah akhir dari pekerjaan saya. Ini hanyalah akhir dari bab ini," kata Jason Arday, mantan Profesor Universitas Cambridge. Tragedi wafatnya Arday kini memicu diskusi mendalam di kalangan praktisi komunikasi dan media mengenai dampak tekanan publik serta kampanye PR dalam rekrutmen keberagaman di institusi pendidikan tinggi.
Direktur komunikasi Paddy Blewer mengkritik tren menjadikan isu keberagaman sekadar platform reputasi perusahaan tanpa dibarengi komitmen substansial. "Seperti yang dikatakan Syed, mengubah sesuatu yang begitu penting seperti DEI menjadi platform reputasi adalah masalahnya, karena publik akan mulai mengasumsikan alasan yang lebih sinis daripada yang mungkin terjadi," kata Paddy Blewer, direktur komunikasi. Blewer menambahkan bahwa setiap program yang dirancang semata-mata oleh tim hubungan masyarakat berisiko dipandang skeptis oleh publik luas.
"Namun setinggi apa pun kita dalam organisasi, sebanyak apa pun kita bercita-cita menjadi hati nurani organisasi, apa pun yang berasal dari tim komunikasi berisiko ditolak sebagai propaganda," kata Paddy Blewer, direktur komunikasi.
Refleksi serupa disampaikan oleh Steve Marinker yang menilai bahwa publik dan media turut bertanggung jawab atas pembentukan opini masif yang berujung pada tekanan terhadap Arday. "Jangan salahkan media atas kematian Jason Arday. Kita semua membuat pilihan.
Kita mengklik. Kita berbagi. Kita melotot," kata Steve Marinker, pengamat komunikasi.