Uhm Jung Hwa Ungkap Rahasia Pola Makan Jaga Kebugaran Fisik
Kondisi fisik prima di usia paruh baya kerap menjadi perhatian luas, seperti halnya kondisi tubuh aktris Korea Selatan Uhm Jung Hwa yang memiliki usia biologis jauh lebih muda dari usianya yang menginjak 56 tahun.
Pemeran utama drama Doctor Cha tersebut membeberkan bahwa dirinya memprioritaskan kontrol porsi, kualitas asupan, serta keseimbangan nutrisi harian dibanding pembatasan makan ekstrem, sebagaimana dilansir dari HaiBunda.
Keterangan tersebut diungkapkan oleh sang aktris saat hadir sebagai bintang tamu dalam program televisi JTBC Please Take Care of My Refrigerator since 2014 pada 9 Agustus lalu.
Bintang film Okay! Madam ini sempat mempraktikkan metode Low-Carb High-Fat (LCHF) dalam periode yang panjang untuk memulihkan stabilitas metabolisme tubuhnya.
"Saya menjalani LCHF dalam waktu yang lama. Ketika beralih ke pola makan tersebut, keseimbangan hormon dan kualitas tidur saya membaik," ungkap Uhm Jung Hwa dalam acara tersebut.
Seiring waktu, prinsip konsumsinya disesuaikan menjadi menu rendah karbohidrat serta minim gula tanpa menghilangkan kelompok zat gizi tersebut secara penuh.
Nasi putih tetap menjadi bagian dari asupan hariannya, namun takarannya dibatasi secara terukur agar tidak melebihi batas kebutuhan harian.
"Saya tetap makan nasi. Bukan berarti saya tidak memakannya sama sekali, tapi mengonsumsi sekitar 30 persen karbohidrat," ucapnya.
Untuk memenuhi keinginan menyantap olahan mi, ia mengganti bahan baku dengan opsi alternatif yang lebih sehat, salah satunya mi berbahan dasar susu kedelai.
Kualitas Bahan dan Manajemen Makanan Favorit
Pemeriksaan pada lemari pendinginnya menunjukkan dominasi aneka bumbu dan saus olahan berkadar gula rendah untuk mendukung gaya hidup sehatnya.
Kualitas kesegaran bahan pangan mentah juga diperolehnya secara berkala dengan membeli komoditas segar langsung dari pasar petani setempat.
Meski disiplin mengatur nutrisi, Uhm Jung Hwa tetap menyisihkan ruang untuk menikmati hidangan kesukaannya seperti jajangmyeon bercita rasa gurih.
Strategi kompensasi dilakukan setelah sesi menyantap makanan tinggi kalori atau cheat meal melalui penerapan jeda puasa yang terukur.
"Saya memang sesekali memakannya. Namun ketika melakukan cheat, saya menjalani puasa selama 18 hingga 20 jam," tuturnya.
Pemberian jeda makan panjang tersebut membantunya mengembalikan ritme pencernaan dan keseimbangan metabolisme tubuh secara konsisten.
Penerapan pola makan jangka panjang memerlukan penyesuaian individual karena kebutuhan nutrisi dipengaruhi oleh faktor usia, status kesehatan, dan rutinitas harian masing-masing orang.