UGM Kirim Tim Tanggap Bencana dan Obat ke NTT Pasca Gempa
Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan memberangkatkan enam personel tim tanggap bencana ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 19 Agustus 2026. Tim ini membawa obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di wilayah tersebut.
Pengiriman tim dan bantuan obat-obatan ini merupakan respons cepat UGM bersama Academic Health System dan jejaring kesehatan untuk mendukung penanganan bencana di NTT. Pelepasan tim dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, dan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi.
Kepala Dinas Kesehatan DIY menyerahkan secara simbolis 240 kilogram obat-obatan yang terdiri dari parasetamol tablet dan sirup, multivitamin, ibuprofen, antasida, cetirizine, infus, masker, dan handscoon. Namun, karena keterbatasan angkutan, tahap pertama hanya mengirimkan sekitar 40 kilogram obat.
"Di sana ada parasetamol tablet, parasetamol sirup, kemudian multivitamin, kemudian ada ibuprofen, antasida, cetirizine, bahkan infus juga kami siapkan. Selain itu, masker dan handscoon juga kami sertakan," ujar dr. Gregorius Anung Trihadi.
Prof. Yodi menjelaskan bahwa tim tidak hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga melakukan asesmen kebutuhan masyarakat terdampak untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
"Timnya akan melakukan asesmen di lapangan dan dari situ kita akan bisa mengidentifikasi kebutuhan realnya apa. Karena ini kan butuh informasi dari lapangan. Dan juga butuh koordinasi karena banyak pihak yang terlibat.
Supaya lebih tepat sasaran, maka kita menyiapkan tim asesmen ini," ujar Prof. Yodi.
Tim terdiri atas tiga anggota tim manajemen bencana FK-KMK dan tiga tim medis dari Rumah Sakit Akademik UGM yang akan melaksanakan rapid health assessment serta bertugas sebagai Emergency Medical Team (EMT). Salah satu anggota tim medis, dr. Rizki Fitria Febrianti, menyebutkan risiko utama pascagempa adalah trauma dan luka, ditambah beberapa rumah sakit yang rusak.
"Kalau di sana kan kasusnya saat ini gempa. Jadi kalau gempa itu banyaknya kasus trauma, luka. Perawatan luka di sana juga dibutuhkan.
Kemudian karena beberapa rumah sakit juga diinfokan collapse, jadi nanti kita tetap ada rapid health assessment awal. Jadi di sana nanti kita asesmen ulang," ujar dr. Rizki.
Sementara itu, sejumlah mahasiswa asal NTT di Jakarta mengaku khawatir dengan kondisi keluarga mereka pascagempa. Arjan (18), mahasiswa asal Desa Nginamanu, Kabupaten Ngada, mengatakan rumah keluarganya mengalami keretakan dan banyak warga mengungsi di luar rumah.
"Bapak bilang dengan sa (saya) di sini (Desa tempat tinggal Arjan di NTT), sekitar 20-an rumah ini runtuh, sekitar 10 rumah itu retak," ujar Arjan saat ditemui di Jakarta.
Arjan juga mengungkapkan keluarganya memilih mengungsi di posko bencana di lapangan terbuka untuk menghindari gempa susulan, dan ia mengupayakan kebutuhan sehari-hari secara mandiri selama di Jakarta.
Mahasiswa lain, Yono (18), asal Manggarai, menceritakan bahwa rumah keluarganya di Kecamatan Cibal Barat mengalami kerusakan cukup parah, bahkan bangunan kos milik keluarganya roboh total akibat gempa. Keluarga memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi sebagai antisipasi.
"Lumayan parah sih. Ini (terdapat) jendela yang pecah, tembok aja ada retak," kata Yono.
Rino (30), mahasiswa asal Kabupaten Ngada, menyampaikan bahwa kondisi di kampungnya relatif ringan, tetapi beberapa rumah mengalami kerusakan sampai roboh. Ia juga menyebut teman-temannya di Kabupaten Nagekeo mengeluhkan kebutuhan makanan dan air bersih yang belum terpenuhi.
"Di kabupaten tetangga ada teman-teman juga di sana, mereka keluhannya soal makan dan air bersih," ujar Rino.
Rino bersama komunitas mahasiswa NTT di Jakarta berupaya menggalang bantuan dan berkoordinasi dengan Badan Penghubung NTT untuk menyalurkan bantuan ke daerah yang belum tersentuh.