Turis di Eropa Kecewa Banyak Hotel Tanpa AC Saat Gelombang Panas
Ribuan turis yang berlibur di Eropa mengalami kekecewaan saat musim panas karena banyak hotel yang tidak menyediakan AC, sementara suhu udara mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius, dilansir dari Detik Travel.
Setelah membayar hingga ratusan euro per malam, wisatawan di kota besar seperti Paris, Roma, dan London harus menghadapi kondisi kamar yang panas dan pengap tanpa pendingin udara. Selain itu, beberapa hotel mengenakan biaya tambahan sekitar 10 hingga 15 euro per hari hanya untuk mengaktifkan AC, terutama di kawasan Eropa Selatan seperti Italia.
Suhu panas ekstrem melebihi 40 derajat Celsius menyerang Prancis, Spanyol, dan negara tetangga pada akhir Juli, menandai gelombang panas keempat sejak Mei. Studi menunjukkan Eropa mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dari rata-rata global.
Penggunaan AC di Eropa masih rendah dengan penetrasi sekitar 20 persen, jauh di bawah Amerika Serikat dan Jepang yang mencapai 90 persen. Hal ini disebabkan oleh banyaknya hotel yang berada di bangunan tua berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Menurut VN Express, memasang AC modern di bangunan berusia hingga 400 tahun sangat mahal dan seringkali terhalang oleh aturan perlindungan cagar budaya yang ketat.
Malcolm Mistry, asisten profesor di London School of Hygiene and Tropical Medicine, menjelaskan dalam majalah TIME bahwa rumah di Inggris dan Prancis berfungsi "seperti tungku pemanas" saat musim panas.
Selain faktor bangunan, aturan iklim Uni Eropa yang ketat juga menghambat pemasangan AC karena target penghapusan hidrofluorokarbon, bahan pendingin yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca, pada tahun 2050.