Trump Setujui Dialog Saat Gencatan Senjata AS Iran Berakhir
Pemerintah Iran mengajukan permohonan untuk membuka kembali jalur dialog dengan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan militer kedua negara pada Jumat (10/7/2026). Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk berunding kembali, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laporan CNN.
Pernyataan mengenai kesepakatan untuk berdialog tersebut disampaikan langsung oleh pemimpin AS melalui platform media sosial pribadinya.
"Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan 'pembicaraan'. Kami telah sepakat untuk melakukannya," tulis Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Walaupun menyetujui adanya pembicaraan baru, pihak AS menegaskan sikapnya yang tidak akan mengubah keputusan politik terkait status penghentian permusuhan.
"Namun, Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka dengan sangat tegas bahwa Gencatan Senjata telah BERAKHIR!" tambah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sebelumnya, penegasan mengenai berakhirnya status gencatan senjata ini juga dilontarkan Trump dalam pertemuan internasional di Turki setelah adanya aksi saling balas serangan militer.
"Sejauh yang saya ketahui, ini (gencatan senjata) sudah berakhir," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Ia pun menyatakan skeptisismenya terhadap efektivitas proses diplomasi yang berjalan sebelumnya dengan pihak Teheran.
"Hanya membuang waktu berurusan dengan mereka," cetus Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Di sisi lain, upaya mediasi tetap berjalan melalui perantara regional. Seorang diplomat mengungkapkan kepada CNN bahwa para negosiator dari Qatar yang berkoordinasi dengan AS telah bertolak menuju Iran untuk menemui pejabat setempat.
Langkah ini sejalan dengan strategi awal pemerintahan Trump yang menerapkan jeda operasi militer pascaserangan guna memberikan ruang bagi jalur diplomasi.
Ketegangan terbaru ini memuncak setelah militer AS merampungkan operasi yang menghancurkan sistem pertahanan udara, situs rudal, pusat komando, hingga kapal militer Iran.
Operasi tersebut diluncurkan Washington sebagai respons atas tindakan Teheran terhadap sejumlah kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.