Donald Trump Ancam Gunakan Militer terhadap Iran jika Diplomasi Gagal

Share

Kesiapan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran ditegaskan oleh Pemerintah Amerika Serikat jika jalur diplomasi untuk mencapai kesepakatan nuklir mengalami kegagalan. Langkah tersebut disampaikan di tengah prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang sedang berlangsung.

Dilansir dari Detikcom, perundingan tidak langsung antara kedua negara sebelumnya berakhir tanpa kemajuan menuju perdamaian abadi, meskipun gencatan senjata 60 hari masih berlaku setelah aksi saling serang. Gedung Putih juga menggarisbawahi bahwa Teheran sama sekali tidak diizinkan memiliki senjata nuklir.

"Kita akan mencapai kesepakatan atau kita akan menyelesaikan tugas itu. Oke, dan tidak akan sulit untuk menyelesaikan tugas itu," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Trump saat berbicara kepada awak media di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin (6/7). Ia menyatakan masih memprioritaskan jalur damai demi menghindari dampak buruk terhadap seluruh populasi di negara tersebut.

"Saya lebih memilih untuk mencapai kesepakatan, karena saya tidak ingin memberikan dampak kepada 91 juta orang," ucap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Selain itu, Trump memperingatkan bahwa Washington memiliki kemampuan penuh untuk melumpuhkan pasokan energi serta menghancurkan infrastruktur jembatan milik Iran dalam waktu singkat.

"Kita bisa menghancurkan jembatan-jembatan mereka dalam satu jam, kita bisa melumpuhkan pasokan energi mereka… Mereka tidak memiliki yang sekarang. Kita belum memberikan uang apa pun kepada mereka," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pemimpin AS tersebut kemudian menegaskan kembali bahwa fokus utamanya adalah mencegah kepemilikan senjata pemusnah massal dan bukan untuk mengganti pemerintahan yang sah di Teheran.

"Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saya tidak mengincar pergantian rezim," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ancaman militer yang dilontarkan oleh pihak Washington tersebut langsung memicu reaksi keras dari jajaran pemerintahan di Teheran.

"Rakyat Iran tidak terbiasa dengan bahasa ancaman. Jadi, bicaralah kepada rakyat Iran dengan hormat, jika tidak, kami akan membalas dengan bahasa lainnya," kata Mohammad Baqer Zolqadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Pernyataan balasan tersebut dirilis melalui media pemerintah Teheran setelah lautan massa menghadiri prosesi pemakaman Khamenei sebagai bentuk persatuan negara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author