Truk Tronton Tabrak Pikap Rombongan Pengantin di Indramayu, 13 Tewas
Insiden tabrakan maut yang melibatkan dua mobil pikap dan satu truk tronton terjadi di Jalur Pantura, Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, hingga mengakibatkan 13 orang meninggal dunia.
Dilansir dari Detik Oto, pemaparan mengenai sebaran lokasi evakuasi para korban jiwa pascakecelakaan tersebut disampaikan oleh pihak berwenang setempat setelah proses evakuasi di lapangan selesai dilakukan.
"Semuanya 13. Yang 3 orang meninggal di TKP, 4 di RS Plumbon, 6 di RS Bhayangkara," ujar AKP Undang Syarif Hidayat, Kasat Lantas Polres Indramayu.
Peristiwa tragis ini bermula ketika mobil pikap bernomor polisi E 8559 RB yang mengangkut 17 orang rombongan pengantin dan dikemudikan oleh Warsidi hendak memutar arah di putaran Kiajaran Kulon dari arah Cirebon. Pada momen yang sama, truk tronton bernopol B 9260 TEV yang dikendarai Deden Ibad melaju dari arah serupa lalu menghantam bagian belakang pikap secara keras.
Benturan tersebut menyebabkan belasan penumpang di bak terbuka terlempar ke jalanan, di mana tiga korban tewas seketika di lokasi kejadian sedangkan korban luka berat lainnya meninggal saat menuju atau berada di rumah sakit karena cedera kepala serius. Untuk menyelidiki penyebab pasti kecelakaan, Polres Indramayu melakukan olah TKP dan mengerahkan tim Traffic Accident Analysis (TAA) Polda Jawa Barat.
Kondisi fatalitas ini mendapat sorotan dari organisasi otomotif nasional yang menilai bahwa tingkat risiko mobilitas di jalanan Indonesia saat ini terpantau masih berada dalam kategori tinggi.
"Turut berduka cita atas peristiwa ini dan banyaknya korban, terima kasih kepada semua warga dan pengguna jalan yang di lokasi dengan segala upayanya juga pihak yang berwenang cepat tanggapannya. Tapi sebaiknya ini menjadi literasi bahwa mobilitas kita masih tinggi risikonya," kata Reza kepada detikOto, Senin (13/7/2026).
Pembenahan manajemen lalu lintas dinilai mendesak mengingat tingginya pergerakan masyarakat pada akhir pekan atau musim liburan di tengah terbatasnya moda transportasi alternatif yang aman serta ekonomis.
"Ini hazard atau potensi bahaya. Sektor logistik transportasi harus berbenah, yang awalnya road hazard mapping hanya pada lingkungan jalan secara fisik, maka penting untuk menjadikan peristiwa ini trigger untuk melakukan hazard mapping dari pengguna jalan yang melakukan mobilitas terutama di daerah. Terutama manajemen lalu lintas," ujar Reza.
Faktor ketiadaan pelindung berupa kabin kendaraan bagi penumpang di bak terbuka menjadi penyebab utama tingginya jumlah korban jiwa saat menerima benturan dari kendaraan berdimensi besar.
"Sebuah fakta dan data mereka tidak ada pilihan lain. Juga ada budaya dan kearifan lokal di sana (naik mobil pikap). Boleh dilarang tapi apa solusinya?
Maka kalau mau bangsa ini besar dan beretika di jalan adalah jadikan mereka potensi bahaya dan jadikan prioritas. Segera menjauh dan wajib antisipasi untuk mereka bagi kita pengguna jalan yang lebih kompeten di jalan. Mereka itu menerapkan semangat kekeluargaan dan gotong royong.
Jalanan itu bagi mereka adalah bagian dari sebuah perjalanan saja sama seperti jalan desa atau kampung mereka. Tidak ada bedanya, apalagi mereka harus tahu soal regulasi dan bahaya, tidak ada ini di sisi mereka. Sebuah fakta juga bus dan mobilitas yang aman itu pasti mahal," pungkas Reza.