Tren Berburu Seafood Gan Hai di Singapura Picu Kekhawatiran Lingkungan

Share

Maraknya aksi mencari hasil laut saat air surut atau dikenal sebagai tren gan hai yang mendadak populer di media sosial kini menuai kekhawatiran terkait potensi kerusakan ekosistem pesisir, seperti dilansir dari Detik Food. Fenomena ini ramai diperbincangkan publik setelah rekaman video aksi berburu biota laut di kawasan Pantai Changi, Singapura, beredar luas di platform Douyin, Xiaohongshu, dan Facebook. Dalam tayangan yang diunggah pertengahan Juli tersebut, rombongan pencari yang membawa sekop, ember, serta jaring tampak mengumpulkan berbagai biota pesisir hingga memenuhi minimal tujuh ember.

Seluruh hasil tangkapan itu kemudian dibawa dan diolah untuk disantap bersama di sebuah restoran bernama Havelock Palace.

Sorotan tajam muncul dari netizen yang mengkhawatirkan tingginya frekuensi eksploitasi serta besarnya volume satwa pesisir yang diambil, termasuk puluhan kerang kipas (fan clam). Biota tersebut tergolong spesies langka yang tercatat dalam Daftar Merah satwa terancam di Singapura, dengan sedikitnya 30 ekor diduga turut dipanen kelompok tersebut.

Kritik senada disampaikan oleh kreator konten lingkungan Biogirl MJ yang menekankan bahwa persoalan mendasar terletak pada pola pikir masyarakat yang menjadikan eksploitasi alam sekadar hiburan semata. Istilah gan hai berasal dari bahasa Mandarin yang bermakna mengejar laut, yaitu aktivitas mengumpulkan kerang, kepiting, serta remis dari balik pasir atau bebatuan tatkala air surut.

Tradisi pencarian bahan pangan ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh masyarakat pesisir China sebelum akhirnya bertransformasi menjadi tren rekreasi global lewat media sosial.

Regulasi Pengambilan Biota Laut di Singapura

Dewan Taman Nasional Singapura (NParks) menegaskan larangan pengambilan satwa liar di sejumlah area lindung, meliputi Sisters' Islands Marine Park, Sungei Buloh Wetland Reserve, Labrador Nature Reserve, dan Chek Jawa di Pulau Ubin.

Meskipun kawasan intertidal Changi tidak berada di bawah kewenangan pengelolaan NParks, otoritas lingkungan tetap memberikan peringatan tegas mengenai bahaya aktivitas tersebut. Direktur National Biodiversity Centre NParks, Dr. Karenne Tun, mengingatkan bahwa habitat pesisir merupakan ekosistem yang rapuh dan penting bagi kehidupan laut.

"Mengambil satwa liar dari habitatnya, termasuk di kawasan intertidal, dapat merusak keanekaragaman hayati dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Setiap spesies memiliki peran penting sehingga dampaknya bisa meluas terhadap lingkungan," kata Dr. Karenne Tun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author